I choose to love you (part III)
AuthorPOV
Kali ini minho pergi sendiri tanpa ditemani Taemin, ia
pergi kesalah satu bioskop favoritnya. Ia biasa pergi dengan Taemin tapi kali
ini anak itu disibukan dengan urusan sekolahnya.
Terasa lengannya di colek-colek oleh seseorang Minho
langsung melihat keaarah lengan kanannya dan terlihatlah sosok gadis yang
mukanya sangat tidak asing lagi sedang menyinarinya dengan cahaya handphone.
“ah oppa, apakah benar kau oppa yang ku temui kemarin di mall bersama lelaki cantik itu??
“ah oppa, apakah benar kau oppa yang ku temui kemarin di mall bersama lelaki cantik itu??
“ah ia benar. Sedang apa kau disini??”
“tentu saja menonton oppa hehe J, mana lelaki cantik itu dia
tak ikut bersamamu?”
“tidak. Dia sedang ada urusan. Oh ya aku Minho. Siapa
namamu?”
“kenalkan aku Hana” mengulurkan tangannya pada Minho.
Sebenarnya ia tak ingin terjadi kontak langsung dengan
gadis ini tapi tak enak rasanya jika mengabaikan uluran tangannya. Minho
menjabad tangan Hana kali ini benar-benar nyata, jantungnya berdegub lebih
kencang dari biasanya. Ah tidak mungkin
aku jatuh cinta pada anak ini, aku bahkan baru mengenalnya. Rasa apa ini??
Ucap Minho dalam hati. Entah mengapa tangannya enggan melepaskan genggaman
gadis ini. Setelah lama menggenggam tangan Hana
tanpa sadar Minho menarik tangan Hana dan mengecup bibir mungil gadis
itu, sekitar lima detik otaknya tak bisa diajak kompromi. Ini benar-benar
diluar kehendaknya semua itu dilakukannya tanpa sadar. Setelah ia melepaskan
ciumannya tampak Hana sudah mematung tak bergerak. Minho benar-benat kalut dan
salah tingkah. Semua perasaan itu bercampur menjadi satu di hatinya.
“maafkan aku Hana. Aku sungguh…”
“tidak. Ini bukan salah siapa-siapa. Lupakan saja”
Keduanya benar-benar melupakan kejadian itu. Setelah
menonton akhirnya mereka putuskan untuk makan sebentar di café dekat bioskop
itu.
“oppa si lelaki cantik itu, apa benar dia adikmu? kenapa
kalian tidak mirip?”
“dia…dia Taemin,, dia..kekasihku Hana”
“oh ya? Kenapa kalian bisa berpacaran, bagaimana
ceritanya??”
Minho heran melihat Hana yang tak merasa aneh atas
penjelasan Minho tadi tak ada ekspresi kaget di wajah gadis ini “ceritanya
panjang, awalnya aku hanya iseng”.
“lalu sekarang? Apa kau benar-benar mencintainya?”
“sepertinya begitu” Minho tersenyum samar.
“lalu kenapa kau menciumku?? Apa kau juga menyukaiku?” ucap
Hana polos.
“ah?.....” Minho hanya diam dan berusaha menyembunyikan
wajahnya yang sudah memerah.
“oppa lain kali datanglah ke rumahku, sekarang aku harus
pulang eomma menyuruhku pulang karena
ia sendirian di rumah. Bye oppa.
Rumahku selalu terbuka untukmu”. Hana meninggalkan kartu nama dan berlalu
meninggalkan Minho.
***
Minho mengambil dompet disaku belakangnya, kemudian
memasukan kartu nama itu kedalam dompetnya. Entah apa yang ia lakukan barusan,
sungguh ini adalah hal tergila yang pernah dilakukannya, mencium gadis yang ia
kenal sekitar 2 jam lalu. Rasa menyesal menyelinap kepikirannya, ia merasa
sangat bersalah pada Taemin, ia yang memulai hubungan ini, betapa sakitnya hati
Taemin jika ia tahu bahwa Minho berselingkuh dengan gadis lain dibelakangnya.
Dengan langkah gontai Minho berjalan menuju apartemennya.
Rasa bersalah masih saja menghantuinnya. Ketika ia tengah berjalan di trotoar
dekat bioskop itu, Minho melihat sesosok yang sepertinya ia kenal disebrang
jalan, seseorang berambut pirang, berkulit putih, tinggi kurus, dan tentunya
cantik, tak lain orang itu adalah Taemin. Tapi Taemin tak sendiri, ia tampak
berjalan terhuyung bersama tiga orang lainnya, dan itu lelaki. Mereka menaiki
mobil dan segera pergi. Minho merasa ada yang aneh, ia memutuskan mengikuti
mobil itu.
Minho kenal betul, ini adalah jalan menuju rumah Taemin.
Ternyata dugaannya benar, Taemin dan tiga orang lainya menuju rumah Taemin,
tapi apa yang mereka lakukan??? Akhirnya Minho memutuskan mengikuti Taemin dan
teman-temannya hingga akhir.
Pintu rumah Taemin telah ditutup, tak ada yang bisa
dilakukan selain menguping didepan pintu rumah Taemin. Setelah beberapa lama
Minho menguping disana, ia mendengar suara desahan Taemin, suara itu kemudian
semakin keras dan keras, diiringi dengan suara tawa teman-teman Taemin. Minho
shock, ia tak tahu apa yang sedang mereka lakukan didalam sana hingga Taemin mendesah-desah
hebat. Tak ada hal yang bisa dilakukan selain mengetuk pintu. Alhasil Minho memberanikan diri mengetuk pintu itu.
Beberapa detik kemudian Taemin membuka pintu rumahnya.
“h..hh..hyung???
apa yang kau lakukan disini??” ucap Taemin tergagap
“apa yang kau lakukan Taemin? Siapa mereka?”
“ah.. mereka teman-temanku”
“hebat sekali kau membawa teman lelakimu ke rumah tanpa
sepengetahuanku, apa yang kau lakukan disini?”
“aku hanya bermain dan mengobrol, tak ada apa-apa”
“BOHONG” ucap Minho penuh emosi.
“apanya yang bohong? Kau kira aku ini dirimu ha? Kau yang
bohong hyung. Selalu sibuk dengan
urusan kuliahmu, tapi diam-diam kau berkencan dengan wanita aneh itu. Kau pikir
aku tak tahu? Kau pikir aku ini apa, kau selalu bilang kalau hatimu terluka
karena diperlakukan seperti boneka usang oleh para gadis-gadis, sekarang kau
memperlakukanku persis seperti boneka usang hyung,
kau pikir sekarang aku sedang bersenang-senang, aku hanya sedang melupakan
kesedihanku, apa salah kalau aku membawa teman-teman ke rumah untuk sekedar
bermain dan bersendagurau agar aku bisa melupakan sejenak apa yang aku lihat di
bioskop tadi. Kau berciuman dengan wanita aneh itu. Kau menciumnya Minho.
Bibirmu dan bibirnya melekatkuat seperti tentakel gurita yang menempel dikulit
manusia. Dan sekarang kau menudingku berbohong??? AKU KECEWA padamu Minho” Ucap
Taemin lancar. Air matanya mengalir deras membasahi pipinya yang lembut. kini
air mata itu semakin deras dan terus mengalir tanpa henti membasahi pipi
Taemin.
“MIANHEYO, JEONGMAL
MIANHEYO CHAGI. Aku yang salah, semuanya salahku. MIANHEYO” Minho memeluk erat tubuh mungil Taemin, ia begitu disiksa
rasa sesal sekarang. Betapa kejamnya dirinya. Orang yang ia cintai itu Taemin
bukan Hana.
Kini tiga orang teman Taemin terpaku melihat pemandangan
yang begitu mengharukan itu.
***
BERSAMBUNG ^^)"
Tidak ada komentar:
Posting Komentar