Title :
Mianhe Bogoshipo
Gendre :
sad romance (?)
Length :
one shoot
Rated :
PG-13
Cast : Key- Kim Kibum [SHINee]
Onew-
Lee Jinki [SHINee]
Heejin- Luna [f(x)]
Mianhe Bogoshipo
Key POV
“Akhirnya
aku dapatkan nomor ponselnya”, bagus. Dengan girangnya aku melangkah menuju
kelasku, tak boleh terlambat masuk kelas karena rubah putih itu akan menerkamku
jika aku terlambat. Bukan. Aku tak takut jika rubah putih itu menerkamku, hanya
saja aku tak mau terlambat melihat pemandangan indah disana sedetikpun, aku
yakin Jinki sudah ada di kelas sekarang. Dengan Heejin pastinya, wanita yang
selalu mengikutinya kemanapun Jinki pergi huh wanita perusak pemandangan. Belum
sempat aku sampai di kelas pemandangan yang membuatku panas sudah terpampang di
depan mata, kenapa harus Heejin yang selalu menggandeng tangan mulus nan putih
itu, kenapa bukan aku???. Ah biarlah lagipula aku sudah punya nomor telepon
Jinki dengan begini aku bisa menelponnya
setiap saat, itupun jika aku berani.
“Kibum-ah
kenapa mukamu murung sekali apa ada masalah?” ucap Heejin padaku saat kami sama-sama
berada di depan kelas untuk segera masuk. Aku tak butuh perhatiannya. Sangat
tidak perlu.
“Tidak
apa-apa, sudalah jangan sok perhatian” jawabku dengan nada sinis.
“Key,
benar kau tidak apa-apa? Kenapa nada bicaramu begitu, Heejin kan hanya
bertanya” Sambung Jinki.
Oh
god, Jinki memanggilku ‘Key’ sungguh diluar dugaan, bahkan dia tahu nama
panggilanku di banding Heejin si gadis menyebalkan ini, dan…oh dia bicara
padaku, tapi… kenapa membela Heejin??? Setidaknya ia cukup menanyakan keadaanku
tanpa embel-embel membela Heejin. Heejin awass kau. Kalau bukan karena kau yang
memberiku nomor telepon Jinki sudahku cakar-cakar mukamu itu.
***
Aku
bersandar di bawah pohon besar di belakang sekolah. Ini hari ke 100 setelah aku
dapatkan nomor telepon Jinki, tapi tak sekalipun aku menghubunginya, aku belum
siap, aku tak tahu harus mengucapkan apa padanya. Jangankan meneleponnya bahkan
tanganku terasa berat untuk menekan tombol berwarna hijau itu untuk memastikan
apa nomornya masih aktif atau tidak. Ini hari terakhirku berada di sekolah ini
karena aku harus pergi ke Perancis untuk melanjutkan pendidikanku, begitu juga
dengan Jinki ia pasti akan sibuk kuliah setelah ini. Mungkin aku bisa meninggalkannya
tapi apa aku sanggup menerima kenyataan bahwa ia akan hidup bersama dengan
Heejin. Menjadi pasangan favorite di kampus nantinya, sedangkan aku? Aku hanya
lelaki kesepian yang tak bisa berbuat apa-apa bahkan demi cinta. Kenapa hari
kelulusan ini datang begitu cepat aku belum mau berpisah dengan Jinki. Segera
aku berdiri dan berlari meninggalkan sekolah ini, berada disini hanya membuat
goresan kenanganku tentang Jinki semakin menggebu padahal aku harus segera
melupakannya. Aku tak mau larut di suasana yang membuat batinku tertekan
begini.
Key POV end
-
Author POV
Tidak
ada yang bisa dilakukan seorang Kim Kibum selain duduk bermenung di kamarnya
yang penuh dengan nuansa pink itu. Besok ia akan terbang ke Perancis kota
impiannya sejak dulu, ia ingin menjadi designer tertama seperti ibunya yang
sudah meninggal 2 tahun lalu karena kecelakaan. Tapi ia tak tampak bahagia
dengan hal ini, ia malah lebih sering mengurung diri di kamar dan menatap layar
ponsel penuh arti. Sudah lebih dari 3 jam ia berdiam diri tanpa melakukan
apa-apa. Kini mungkin saat yang tepat untuk bicara pada Jinki tentang hatinya,
toh setelah ini ia tidak akan bertemu lagi dengan Jinki. Ia menekan satu per
satu nomor-nomor di layar ponselnya dan menekan tombol berwarna hijau. Nafasnya
tak beraturan, sangat sesak rasanya harus mengucapkan selamat tinggal pada
Jinki tapi ini yang terbaik yang harus dilakukannya dari pada harus menahan
perasaan dalam hati dan membawanya hingga jauh.
Terdengar
nada sambung di telinganya, nomor Jinki masih aktif. Namun tak ada jawaban. Apa
mungkin Jinki sedang sibuk atau benar-benar tak mau angkat telepon terlebih
dari orang yang tak dikenalnya?. Untuk yang kesekian kalinya ia menelpon Jinki
tapi hasilnya nihil Jinki tetap tak menjawab teleponnya. Kalau begitu Key putuskan
untuk mengirim pesan saja.
besok aku akan pergi Onew,
aku tak mau membawa rasa ini hingga jauh
aku meneleponmu tapi tak ada jawaban
jadi
aku putuskan untuk kirim pesan saja
kau pasti binggung atas semua ini
tapi
asal kau tahu aku sangat menyayangimu
lebih dari itu aku juga jatuh cinta padamu
aku harap kau bisa mengerti perasaanku
selamat jalan Onew, jaga dirimu baik-baik
berbahagialah dengan wanita yang kau cintai
-Key-
Pesannya terkirim kini Key bisa
sedikit lega karena perasaan yang selama ini ia sembunyikan akhirnya bisa
diutarakannya pada Jinki. Orang yang ia cintai sejak 3 tahun lalu.
3 Bulan kemudian
Paris memang kota yang indah,
selama 3 bulan disini Key merasakan lahir sebagai pribadi baru, lebih ceria,
lebih mandiri, dan lebih menikmati hidup. Kini ia bisa melakukan apapun tanpa
ada embel-embel Jinki, biasanya semua yang ia lakukan didasari prinsip “ini
demi Onew”. Sekarang semua berbeda, Jinki sudah tak ada lagi ia disini sendiri.
Hanya ada ribuan impian yang ingin ia wujudkan. Namun sosok Jinki tak akan
pernah terhapus di hatinya.
Suatu malam Key teringat akan
pesan terakhirnya pada Jinki. Semejak pesan itu terkirim hubungannya dengan
Jinki benar-benar putus seakan sosok Jinki telah hilang ditelan bumi. Demi
mengobati rasa penasarannya akan reaksi Jinki terhadap pesan itu Key memutuskan
menelepon Jinki. Mungkin ia terlalu naïf tapi sosok Jinki selalu menghantui
pikirannya. Setiap hujan datang Jinki hadir sebagai seorang yang mambawa
setetes air untuk menyiram hatinya yang gersang. Disaat musim dingin datang
Jinki bagaikan salju yang penuh kelembutan namun dingin. Saat musim panas
datang sosok Jinki datang sebagai pembawa cahaya saat ia berada di kegelapan,
sedangkan musin semi, Jinki bagai malaikat yang akan menyemai bibit cintanya.
Hidupnya memang telah berubah tapi cintanya pada Jinki tak akan pernah berubah.
“yeoboseyo, nuguseyo?”
suara merdu Jinki terdengar disebrang sana, tanpa sadar air mata Key mengalir
membentuk sungai kecil dengan aliran air yang tenang di pipi tirusnya. Suaranya
kini terisak tak disangka ternyata rasa rindunya telah sampai pada rasa yang
teramat sangat.
“yeoboseyo….yaak… nuguseyo…” Jinki kembali bicara, dan kini tangisan
Key benar-benar pecah, membuat suaranya menggema ke seluruh ruangan arpatemen
yang sepi.
“Onew…MIANHE BOGOSHIPO, joengmal bogoshipo..hik…” Key memberanikan diri
mengungkapkan isi hatinya, ia kini terisak dan air matanya semakin deras.
Selama ini ia telah membohongi diri sendiri. Berpura baik-baik saja dan seakan
terbiasa hidup tanpa Jinki, padahal dari lubuk hatinya terdalam berkecamuk rasa
rindu yang mendalam pada Jinki.
“ssssttt nado bogoshipo chagiya” jawaban yang sungguh mengejutkan dari
seorang Lee Jinki.
“mwo??,,hik..jinjayo?,,hik”
kini tangisan Key mereda mendengar tiap kata yang keluar dari bibir Jinki. Ia
terdiam sejenak meresapi kata demi kata yang baru saja ia dengar. Ia tidak
sedang bermimpikan??
“Hm..sudah jangan menangis lagi,
mendengar kau menangis air mataku juga ikut mengalir disini. Key mianhe aku tak angkat teleponmu juga tak
balas pesanmu. Bukan berarti aku tak mencintaimu hanya saja saat itu ibuku
masuk rumah sakit karena penyakit pencernaanya kambuh lagi. Aku menyesal selama
ini hanya memendam rasa cintaku padamu. Kini kita terpisah jarak dan waktu.
Andai waktu bisa berputar kembali aku tak akan menyia-nyiakan kesempatan. Jeongmal mianhe Key” jelas Jinki
“Tidak. Sejauh apapun jarak yang
memisahkan kita aku akan tetap mencintaimu Onew. Suatu saat nanti aku akan
kembali ke Seoul dan bertemu denganmu lagi. Kita akan jadi pasangan paling
istimewa Onew. Hikk..hik.. Neomu bogoshipo”
“jika kau merindukanku, tutup
matamu lalu bayangkan kalau aku ada di sampingmu, memelukmu erat penuh cinta.
Maka kau tak akan kesepian lagi chagi”
“saranghae Onew”
“nado chagi”
1 Tahun Kemudian
“Yaa Onew aku sudah sampai, sudah tak
sabar ingin bertemu denganmu chagi”
ucap Key yang sedang asyik menelepon di bandara. Hari ini ia tiba di Seoul kota
kelahirannya dan kota yang menyimpan banyak kenangan di hidupnya. Hari ini ia
akan bertemu dengan Onew namja yang ia cintai, dan sekarang batapa senangnya ia
saat akan mendengar Onew mengucapkan “saranghaeyo” di hadapannya.
“aku akan menjemputmu. Tunngu
aku chagi”
“ah andweyo, kita bertemu di taman dekat sekolah saja. aku ingin kita
bertemu disana. Jangan memaksaku untuk mengikuti apa katamu hari ini Onew”
jawab Key yang semakin mempercepat langkahnya dan segera menunggu taksi.
“baiklah kalau itu maumu. Aku
akan menunggumu chagi. Bogoshipo”
“aku akan sampai lebih cepat
dari yang kau bayangkan. Paii chagi”
***
Author POV end
-
Onew POV
Aku menunggu kedatangan Key
dengan riangnya. Aku berjalan bolak-balik saking tak sabarnya menyambut pujaan
hatiku itu. Tak lama Terlihat disebrang Jalan sesosok yang sangat kukenal, yah
dia Kim Kibum sungguh sekarang ia tampak lebih keren dan yah tentu saja cantik.
Bagaimana tidak diakan calon designer terkenal, dan aku calon suaminya hehe.
Aku melambaikan tangan padanya
memberi sinyal agar ia segera mendekat dan memelukku. Aku tahu ia kini setengah
berlari menuju tempatku berdiri. Senyumnya terukir indah di wajahnya, bibir
pink nya menambah kesan sensual dari diri seorang Key, betapa menyesalnya aku
selama ini menyia-nyiakan orang sepertinya. Kini Key membalas lambaian tanganku
ia berlari ke arahku dengan senyum yang enggan lepas dari wajahnya yang manis
itu. Namun….. langkahnya terhenti. Berhenti. Lebih dari itu kini pemandangan
yang kulihat bukan Key yang sedang tersenyum, bukan.
Rasanya tubuhku mati rasa,
mataku perih dan air mataku mengalir deras sedras-derasnya, tubuhku menegang
tak percaya akan apa yang kulihat barusan. Key kau kah itu??? Segera aku
berlari dan apa yang ada di depanku, kini Key tergeletak lemah dan ia
berlumuran darah. Langsung aku memeluknya, memeluknya erat sekali, “Onneeeww….”
Ia masih sempat memanggil namaku. Key aku yakin kau pasti kuat kumohon bertahan
lah sebentar lagi aku akan mengantarmu ke rumah sakit. “saranghaeyo Onew” Key
kembali mengeluarkan kata-kata yang membuat batinku seakan teriris sembilu,
kenapa kau lakukan ini padaku Key. Kenapa ini terjadi padamu?
Butiran air langit turun silih
berganti dengan tempo yang semakin lama semakin kencang, Key tetap memelukku,
aku tak bisa bergerak dibuatnya. Kami berpelukan dibawah lebatnya hujan, Key
semakin melemah dan ia masih mengeluarkan kata-kata yang membuatku merinding
“biar saja begini Onew….aku ingin… memelukmu.. lebih lama lagi… kumohon… jangan
lepaskan..” Aku menangis sejadi-jadinya menangisi kajadian ini, kenapa harus
Key?? Aku menunggunya selama satu tahun ini dan apa ini buah dari penantianku,
apa ini karma karena aku terlalu banyak membuang waktu untuk memendam cintaku
padanya??? God cabut saja nyawaku jika kau lakukan ini pada Key. “SARANGHAEYO
KEY” aku berulang kali mengucapkan kalimat itu, aku harap key baik-baik saja.
***
“bagaimana keadaannya dok?”
“maaf nyawa pasien tidak dapat
diselamatkan. Ia kehilangan banyak darah. Sungguh kami tidak dapat
menyelamatkan nyawanya”
***
Aku tak sanggup menyaksikan
prosesi pemakamannya. Ini terlalu berat untukku. Semua terjadi begitu saja dan
terlalu cepat. Maaf Key aku tak bisa menghadiri prosesi pemakamanmu.
Aku berjalan dengan langkah
gontai menuju suatu tempat dimana itu adalah tempat terakhirku bertemu dengan
Key, mataku bengkak akibat menangis semalaman aku belum bisa menerima semua
ini. Kini sisa-sisa air mata itu masih mengalir membasahi pipiku. Aku berjalan
dan terus berjalan tak peduli siapa yang kutabrak dan siapa yang mengumpat oleh
ulahku, yang ku tahu kini adalah bagaimana agar aku bisa menyudahi kepedihan
ini. Di tempat yang sama, bahkan bekas darah Key belum terhapus dari jalanan
yang kasar itu. Disana aku menyudahi semua kepedihan yang aku dan Key rasakan.
Sebuah motor dengan kecepatan tinggi melintas di depanku dan seakan tubuhku
melayang dan terpental jauh ke tepi jalan kepalaku membentur trotoar di jalan
itu, aku bisa merasakan aliran darah yang keluar dari sudut bibirku juga bagian
kepalaku. Aku juga masih bisa mendengar sayup-sayup suara teriakan beberapa
orang. Kini aku bisa merasakan betapa sakitnya Key saat itu. Biarlah tempat ini
menjadi saksi bisu betapa besarnya rasa cintaku padamu Key. Dan birlah darah
kita yang menyatu di jalanan ini sebagai bukti abadinya cinta kita. Aku akan
ikut kemanapun kau pergi Key.
THE
END
Nb : sorry gaje
en kalo g bisa bikin readers nya nangis. Maklum ini ff onkey pertamaku dan ff
sad story pertamaku juga.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar