Title : Waiting for You
Cast : 2min
Rate : G
huahahaha hello semua, ini hasil imajinasi gue waktu bangun tidur. jadi kalo ngerasa aneh atau jelek gue mohon maap, nih epep cuma buat hepi-hepi, dan di sini taeminnya err~~~ baca aja deh yah biar tauw.
YUUKK MAREEEE~~~
Dddrrrttt….ddrrrrttt……..
Ponselku bergetar. Siapa yang menelpon pagi-pagi buta seperti ini??
Mengganggu saja.
“Hallo?” sapaku
“oke baiklah”.
Oh god, kenapa nenek sihir itu selalu membuat instruksi mendadak
kepadaku? Aku baru tidur sekitar 2 jam lalu dan sekarang aku harus ke kantor
dan menyelesaikan pekerjaanku. Kenapa dia tidak bisa menyelesaikan pekerjaannya
sendiri?
“siapa sayang?”
“sekretaris Han, ia menyuruhku segera ke kantor karena sebentar lagi
ibuku akan datang mengecek pekerjaanku. Baiklah aku akan bersiap-siap”
“apakah kau akan meninggalkanku sendiri disini? Ingat yang semalam
kita lakukan sayang”
“apa? Memangnya apa yang kita lakukan hah? Kita hanya tidur bersama
tanpa melakukan apa-apa, lalu apa yang harus aku khawatirkan? Sudahlah aku harus
segera bersiap-siap. Lagi pula kau bukan siapa-siapa bagiku. Kita hanya teman Key”
“heunggg terserah kau saja, lakukan sesukamu”.
-----------------------------------------------------------
“pagi Nona”
“annyeong haseyo Nona Lee”
Bla bla bla terserah mereka saja
mau menyapaku dengan cara apa, dimataku mereka tetap sama. Didepanku
berpura-pura baik seakan mereka adalah karyawan paling patuh dan bekerja keras.
Huh padahal setelah ini mereka akan membicarakanku dibelakang. Dasar tukang
gosip murahan. Oke baiklah tidak ada gunanya membuang-buang waktu memikirkan
karyawan tak berguna seperti mereka, lebih baik memikirkan apa yang akan nenek
sihir itu lakukan kepadaku hari ini setelah ia mengutus sekretarisku untuk
menelpon PAGI-PAGI-BUTA.
Aku masuk ke ruanganku seperti
yang biasa kulakukan saat sampai di kantor, ah, kenapa suasananya berbeda? Hei
ini baru 2 bulan aku tidak mengunjungi ruanganku, lalu kenapa semua berubah?
Lihat satu meja lagi disana, kenapa ada dua meja di ruanganku?
“pak Han meja siapa ini? Kenapa
ada meja lain di ruanganku, ah lalu kapan ibuku akan datang?”
“maaf Nona, baru beberapa saat
yang lalu, mungkin ketika anda sedang diperjalanan Nyonya Lee menelpon saya, ia
bilang ia tidak bisa hadir karena ada meeting mendadak. Jadi mungkin saya yang
akan menjelaskkan mengenai meja yang ada di ruangan anda ini”
“APA??? Kenapa ia bisa seenaknya
mengganti jadwalnya?? Tidak tahukah kalau semalam aku ti….. ah sudah lah. Jadi
sekarang cepat jelaskan kenapa di ruanganku ada dua meja? Meja siapa itu? Aku
tidak mungkin duduk di dua meja sekaligus bukan?”
“maaf Nona, saya hanya
menyampaikan perintah Nyonya Lee kapada anda.” Ia berhenti sejenak, membuatku
penasaran saja. “mengingat sifat anda yang tidak professional terhadap tugas
anda di kantor ini membuat Nyonya Lee sebagai pimpinan utama khawatir akan kelangsungan kantor ini, maka ia
mencarikan patner untuk anda, orang ini akan menjalankan tugas-tugas sama
seperti anda sebagaimana mestinya. Nyonya Lee akan membuat Tim antara anda dan
orang ini agar memajukan kantor kita.”
“HAH???? Bagaimana bisa ibuku
menggantikan posisi anaknya dengan orang lain.”
“bukan begitu maksudnya Nona,
anda tetaplah pimpinan disini, namun nantinya anda akan di bantu oleh patner
anda. Mengingat anda sangat jarang datang ke kantor, banyak orang kewalahan
menggantikan tugas anda di samping tugas mereka masing-masing, maka dari itu
anda mempunyai patner yang natinya akan menjalankan tugas anda. Anda teteplah
pimpinan disini Nona.”
Benar-benar berita buruk untuk
hari ini, siapa orang yang kan menjadi patnerku? Lihat saja kalau ia berani
menggoda ibuku untuk kepentingan pribadinya, aku tidak segan-segan mematahkan
lehernya dengan tanganku sendiri. Lalu kenapa ibuku mempercayainya? Baiklah
kita lihat saja cara kerjanya nanti. “jadi siapa-yang-akan-menjadi-patnerku?”
“sebentar lagi orangnya akan
datang, ia baru saja pulang dari Amerika. Barusan saya menghubunginnya, ia
mungkin sedang diperjalanan menuju kemari Nona.”
Amerika? Kenapa seorang tamatan
Universitas di Amerika mau bekerja di perusahaan yang baru di bangun sekitar 2
tahun lalu? Harusnya ia melamar pekerjaan di perusahaan ibuku kalau ia mau. Ah
mungkin saja ia adalah tamatan dengan nilai paling buruk di sana. Kekkeke~
“annyeong haseyo, ah maaf aku
terlambat Pak Han” seorang membuka pintu TANPA MENGETUK TERLEBIH DAHULU, sangat
tidak sopan. Untung aku tidak melihat wajahnya karena aku sibuk memandangi
pemandangan di luar sana lewat jendela kaca besar nan megah di ruanganku.
Sangat tidak sopan.
“ah annyeong haseyo . Nona patner
anda sudah datang, saya akan mengenalkannya pada anda”
Aku membalikan badan melihat
siapa orang yang akan menjadi patnerku, dan………..ternyata dia………………………… oh god.
Kenapa jantungku berdegub kencang, tubuhku menegang melihat orang itu,
dia……………………. Kenapa harus orang ini?
---------------------------------------------------------
“kenapa kau kesini? Ke
perusahaanku?” ucapku ketus
“aku tidak tahu kau ada disini,
kalau tahu seperti ini aku tidak akan melamar pekerjaan disini”
“aku masih menyukaimu”
“aku tidak, bahkan tidak
pernah.”
“kau jahat.”
“di mataku kau tetap sama
Taemin, kau masih seperti dulu. Hidup sesuka hati tanpa memikirkan yang lain.
Kenapa aku ada disini itu karena sikapmu yang sembrono. Tidak professional dan
sibuk dengan duniamu sendiri.”
“aku tidak seperti yang kau
bayangkan. Aku sudah berubah Minho-ssi”
“benarkan? Lalu kenapa kau harus
dicarikan patnernya? Aku dengar kau jarang datang ke kantor dan membuat
semuanya kewalahan atas sikapmu yang seenaknya. Apa itu yang kau maksud sudah
berubah?”
“dimataku kau juga masih sama Minho.
Sama seperti dulu. Kau jahat!!!”
-----------------------------------------------
*Flashback*
“Taemin kau tidak minum?”
“hm iya…….” Aku segera munenggak
semua minuman itu, aku tahu aku tidak kuat minum tapi ini karena ‘gengsi’
mungkin.
“Taemin kau minum banyak sekali,
kau bisa mabuk nanti”
“hmm……..apa pedulimu Key? Hiks”
aku menangis dibawah alam sadarku. Aku mabuk.
“apa yang sebenarnya terjadi?
Kau harus pulang sekarang, tidak baik kalau gadis cantik sepertimu pulang larut
malam” Key menggendongku menuju mobilnya, ia akan mengantarku pulang.
“aku tidak mau pulang, aku ke apartemenmu
saja Key, dasar pabo sekarang sudah jam 2 kau mau ibuku memecatku jadi
anaknya??” kataku sambil memukul kepala Key.
“oke baiklah. Ini karna kita
teman makanya kuperbolehkan kau ke apartemenku”
Aku tidur sepanjang perjalanan, sampai pagi. Ketika bangun aku
keluar kamar dan melihat Key sudah menyiapkan sarapan untukku, bahkan ia sudah
mandi. Jangan berpikir Key adalah pacarku, kami HANYA TEMAN. Aku bahkan tidak
melakukan apa-apa ketika kami tidur bersama. Bukan hanya dengan Key aku tidur
tapi juga dengan lelaki lain. Tapi aku ingatkan satu kali lagi. KITA TIDAK
MELAKUKAN APA-APA. Begitulah cara mereka menghormatiku.
Aku makan sarapan yang dibuat Key, begitu lezat seperti makanan
rumah. Ia benar-benar bisa memasak, bahkan ibuku sendiri tidak pernah memasak
untukku. Ia teman, kakak, juga ibu untukku.
“jadi kenapa kau menangis semalam?”
“apa? Aku menangis? Bodoh” aku memukul kepalaku sendiri.
“ceritakan padaku Taemin. Kalau kau masih menganggapku teman!”
“…………………..” aku diam, sejenak berpikir apakah aku harus
menceritakannya pada Key? Aku bisa mempercayainya tapi apakah ia tidak akan
menertawaiku, atau memarahiku?
“Ayolah Taemin, ceritakan padaku”
“aku……….aku menyukai seseorang ketika SMA dulu. Dia…….. menolakku.”
“ceritakan dengan lengkap Taemin. Kau tidak akan menangis seperti
semalam jika hanya di tolak oleh seorang lelaki. Siapa orang itu?”
-----------------------------------------------
*Begini ceritanya*
Waktu itu aku di suruh Miss Choi
guru bahasa Inggrisku ke perpustakaan untuk mengantar beberapa buku yang kami
gunakan untuk belajar, ketika itu jam pelajaran sudah berakhir, harusnya aku
makan di kantin tapi karena ke perpustakaan jadi aku tidak sempat makan.
Penjaga perpustakaan menyuruhku meletakan buku itu kembali di tempatnya, tapi
ternyata tempat buku itu berada adalah di rak paling atas, aku tidak bisa
menaruhnya disana jadi aku minta tolong ke anak laki-laki yang sedang mecari buku
di dekatku. Ia membantuku menaru bukunya dan kemudian pergi sebelum aku ber
terimakasih.
Aku tipe gadis yang akan
mengejar laki-laki yang membuatku penasaran, makanya aku mengikuti anak itu.
Ternyata ia duduk di tempat membaca buku. Kemudian aku mengambil sembarang buku
dan duduk di depannya.
“aku belum berterima kasih”
“tidak apa-apa” jawabnya dingin
“yaaak kenapa kau bersikap
sangat tidak sopan kepada wanita?” aku membentaknya.
“ini perpustakaan, kau tidak
boleh berteriak. Semua orang akan terganggu.”
Aku melihat sekitar dan semua
mata tertuju padaku. Baiklah ini pertama kalinya aku ke perpustakaan selama aku
SMA, aku lupa bagaimana tata tertib perpustakaan. Ternyata semua sama. Aku
tidak suka ketenangan. Aku lebih suka suara musik disko dan aku hanyut menari
bersamanya. “oke sekarang katakan kenapa kau bersikap seperti ini pada orang
yang belum kau kenal? Apa kau melakukan hal yang sama pada semua orang?”
“tidak.”
“lalu kenapa kau dingin sekali
terhadapku? Hei setidaknya kau pergi setelah aku mengucapkan terima kasih”
“tidak perlu”
“kau ini benar-benar
menyebalkan, kau tidak tahu siapa aku?”
“tentu saja aku tahu. Kau gadis
paling terkenal di SMA ini.”
“nah itu kau tahu” ucap ku
tersenyum, ah seterkenal itukah diriku.
Dia melanjutkan kalimatnya. “dan
siapa yang tidak tahu kalau kau gadis yang suka bergonta-ganti pasangan,
mabuk-mabukan bahkan kau hampir di D.O karena sering membolos. Dan aku yakin
ini pertamakalinya kau ke perpustakaan” jawabnya dingin. Nada bicaranya sangat
datar. Dan tidak tahukah dia kalau kata-katanya barusan sangat menyakiti
hatiku. Air mataku jatuh.
“ke…kenapa kau mengatakan hal
itu? Kau tak seharusnya mengatakan itu. Hiks”
“kenapa kau menangis? Semuanya
memang benarkan? Kau harus menerima kenyataan. Lee Taemin.”
“heh aku benar-benar terkenal
rupanya. Bahkan kau mengetahui nama lengkapku”. Aku pergi. Aku melangkah cepat
ke kelasku, mengambil tas dan pulang. Teman-temanku tak peduli, mungkin benar
kata lelaki tadi, semua orang tahu siapa aku jadi mereka sudah tidak heran jika
aku datang dan pergi ke sekolah sesuka hatiku. Aku tidak pernah merasakan hal
yang sesakit ini.
--------------------------------------------------
Esok harinya aku berangkat sekolah
dengan mata bengkak karena seharian kemarin aku menangis. Aku membingkai mataku
dengan kacamata agar bengkaknya tidak terlalu jelas. Aku harus mencari lelaki
kemarin dan meminta pertanggung jawaban. Dia membuatku kehilangan gairah hidup.
Dia pasti ada di perpustakaan. Lelaki culun seperti dia dimana lagi bisa kau temukan
kalu bukan di perpustakaan.
“hei kau!!! Bisakah kita bicara
sebentar” ucapku yang terkesan memaksa.
“bicara apa? Aku rasa tidak ada
yang harus dibicarakan denganmu”
“Ayolah, aku benar-benar harus
bicara denganmu. Setidaknya biarkan aku mengetahui namamu”
“lihat saja name tag di bajuku,
kau kan punya mata”
“Choi-Minho” aku mengeja
namanya. Ah apakah ia tahu namaku dari name tag dibajuku? Aisshh
“yak Minho-ssi apa kau tahu
namaku dari name tag ku? Apa kau benar-benar melihat namaku atau apa yang ada
dibelakangnya? Dasar mesum!!”
“setidaknya aku tidak tidur
dengan temanku sendiri. Jadi siapa yang mesum huh?”
“jangan membicarakan hal itu.
Aku tidak suka. Lagi pula dimana kamu tahu?”
“aku mendengar orang-orang”
“isshh tukang gosip jahanam itu
ternyata membicarakanku dimana-mana rupanya. Yaa Minho, aku akan berubah jika
kau mau, tapi jangan pernah mengungkit semua keburukanku di depanku. Eotte?”
“tidak perlu”
“jadi apa yang kau inginkan?
Kenapa kau bersikap seperti itu padaku. Sebenarnya kau ini kenapa?, jadi aku
harus bagaimana supaya kau bersikap baik padaku. Kau tahu kenapa mataku
bengkak, ini semua karena ulahmu, ucapanmu sangat menyakitiku kemarin. Kau
bahkan tidak menanyakan keadaanku atau setidaknya kau minta maaf atas ucapanmu
kemarin.”
“kenapa aku harus memperhatikan
matamu? Dan kenapa kau sangat ingin aku memperhatikanmu? Apa kamu menyukaiku
eoh?” jawabnya datar tapi tegas. Oh god apa ini? Kenapa ini berkata demikian.
Akau harus jawab apa? Aku benar-benar menyukainya?
“IYA!!!!”
“tapi aku tidak!”
“aku tahu.”
“……………..” hening.
Sejak hari itu aku terus
mengikutinya, kemanapun ia pergi aku terus mengikutinya. Aku lupa akan
teman-temanku, aku tidak datang ke bar, aku juga tidak pakai pakaian seksi
lagi. Aku hanya diam di rumah memikirkannya, memikirkan cara apa yang harus
kulakukan agar ia sedikit memperhatikanku.aku tidur lebih awal agar hari esok
cepat tiba dan aku bisa melihatnya lagi. Namun pada suatu ketika Minho marah
padaku saat aku terus mengikutinya.
“Lee Taemin, bisakah kau tidak
mengikutiku lagi? Aku tidak akan menyukaimu walau apapun yang kau lakukan
padaku. Kau mengikutiku beberapa hari ini dan itu sangat mengganggu. Lebih baik
kau pergi dan hiduplah seperti biasanya!!”
Hiks…. Aku menagis di depannya,
ia bahkan tak berekspresi. Sudahlah mungkin ini memang bukan takdirku menjadi
orang baik. Minho kau satu-satunya lelaki yang aku sukai. Kau berbeda. Tak sama
dengan teman laki-lakiku di luar sana. Sebenarnya apa yang kau inginkan?.
Malam harinya aku minum-minum di
rumah, aku mabuk dan menangis. Benar-benar kacau. Gadis cantik di tolak
mentah-mentah oleh seorang pria culun siapa yang tak akan sakit hati? Entahlah
tiba-tiba saja ide gila menghantui pikiranku, aku pergi ke rumah Minho
sendirian dan dalam keadaan mabuk.
Tok tok tok…..
Minho membuka pintu, rumah kecil
dan ia hidup sendirian. “Taemin?”
“nghh….. Minho. Aku sampai ke
rumahmu… dasar kau brengsek beraninya menolakku” aku berjalan mendekatinya
dengan terhuyung, kepalaku pusing.
“kau mabuk Taemin”
GREBBBB… aku memeluknya. Bahkan
ia tak membalas pelukanku. “aku menyukaimu, tak bisakah kau menyukaiku? Hiks”
aku menangis dipelukannya, bajunya basah karena air mataku. Tapi ia tak
merespon. Sungguh menyedihkan. Aku semakin memeluknya erat dan tangisku semakin
menjadi-jadi hingga aku tak tahu apa-apa lagi.
Paginya aku bangun, Minho tak
ada di rumah. Mungkin ia sudah pergi sekolah. Baiklah sebentar lagi aku akan ke
sekolah, sedikit terlambat mungkin tidak apa-apa.
Di sekolah aku tak berani lagi
mengganggunya. Semuanya seperti dulu. Biasa saja.
----------------------------------
“Minho tidak masuk kelas?” aku
iseng mencari Minho setelah beberapa hari ini tak melihatnya. Aku
merindukannya.
“kau tidak tahu? Diakan sudah
pindah sekolah. Ke Amerika. Dia mendapat beasiswa disana.”
“apa? Amerika?”
“iya”
“oh. Aku pergi dulu”
-----------------------------------
Amerika, disinilah aku sekarang.
Bagaimana bisa? Ah tentu saja bisa, apa yang tak bisa kulakukan?. Aku datang ke
sekolah Minho. Benar-benar mewah dan berbeda dengan sekolahku di Korea. Aku
mulai mencari-cari Minho, kuharap hari ini aku bisa menemukannya. Dan benar,
tak lama aku berputar-putar tempat in aku dapat menemukannya. Di perpustakaan.
Dia keluar perpusatakaan dengan seorang wanita, sepertinya bukan orang Korea.
Aku segera munuju tempat Minho dan menyapanya. “Minho Annyeong”
“Taemin? Apa yang kau lakukan
disini?” ucapnya heran. Lucu sekali.
“mencarimu” aku tersenyum
melihatnya. Minho kini mulai berubah, ia tak seculun ketika di Korea. Terlihat
lebih tampan.
“kenapa?”
“aku merindukanmu, siapa dia?”
melihat kearah wanita disamping Minho.
“temanku”
“oh. Bolehkan aku berkunjung ke
rumahmu di sini?”
“tidak”
-----------------------------------
Jangan sebut namaku Lee Taemin
jika aku tak bisa menemukan alamat Minho di Amerika. Aku menyuruh seseorang
mencari tahunya, dan sekarang aku mendapatkan alamatnya. Aku segera mengunjungi
tempat dimana Minho tinggal.
Tok tok tok…
Dia membuka pintu “hello Minho-ssi”.
“Taemin? Dimana kau temukan
alamatku?”
“kau tidak perlu tahu, jadi
apakah aku boleh masuk?”
“tidak”
“huh tidak sopan” aku meneroboh
tubuhnya di pintu dan masuk ke dalam tempat tinggalnya yang lumayan nyaman ini.
“ wah rumahmu bagus juga, maksudku rumah susun ini. Kau pasti sangat pintar
hingga bisa sekolah di Amerika dan diberi fasilitas gratis seperti ini.” Aku
duduk di sova nya.
“apa yang kau inginkan?”
Aku menyeringai. “aku mau kau
juga menyukaiku”
“bodoh. Tidak mungkin”
“kenapa?”
“karena kau….”
“aku gadis bodoh yang suka
mabuk, tidur dengan teman laki-laki, bla bla bla.. baiklah Minho jika itu yang
kau inginkan. Selama ini aku mencoba berubah dan aku mengharapkan kau
menuntunku menjadi anak yang baik, seperti apa yang kau inginkan. Tapi kau
selalu menolak. Baiklah kalau begitu aku tidak adan mengganggumu lagi, aku akan
menjadi aku. Dan kau tetaplah orang yang kusukai. Huh percuma saja aku datang
jauh-jauh jika aku mendapatkan jawaban yang selalu sama. Selamat menikmati
hidupmu Minho-ssi. Aku pergi.”
“pergilah”
“hiks……….hiks……….hiks……….” aku
menangis, aku tidak bisa pergi, aku tidak mau pergi. Aku ingin dia menahanku.
Aku terus menangis untuk benerapa saat. Aku membatu. Tapi aku harus pergi,
percuma saja membuang air mata jika kau tak akan dapatkan apa-apa. Aku berjalah
kearah pintu dengan langkah lemas.
GREBBBBBBBBBBB… Minho………..
di…..dia memelukku dari belakang. Backhug. Sangat nyaman. “Berubahlah dan aku
akan menyukaimu. Jangan berubah karena aku, tapi berubah untuk dirimu dan
orang-orang disekitarmu Taemin. Pergilah dan jangan menungguku, jadilah orang baik
disana. Itu akan lebih baik untukmu” dia berbisik ditelingaku, kemudia aku
berbalik dan sekarang kami berhadapan. Minho menghapus air mataku dengan
tangannya. Lembut. “sudahlah jangan menangis lagi. Maafkan aku”. MINHO MEMINTA
MAAF PADAKU??? INI PERTAMA KALINYA DALAH SEJARAH!!!
CHU~
dia mencium bibirku, lembut sangat lembut. Aku menutup mata,
merasakan bibirnya yang uhm… manis? Aku melingkarkan tanganku di lehernyanya,
tangannya melingkar di pinggangku. Hanya ciuman sederhana, tanpa nafsu, tanpa
lumatan. Hanya saling menyalurkan energy dalam tubuh. Aku menangis, air mataku
mengalir begitu saja. Terserah saja jika dia melakukan ini agar aku datang tak
sia-sia ke Amerika. Yang terpenting sekarang adalah aku mencintainya.
Minho melepaskan ciumannya, ia tersenyum lembut, senyuman yang tak
pernah kudapat sebelumnya. Kemudian ia memelukku. Dan berbisik lagi “jangan
menungguku dan jadilah lebih baik”
Flashback END~
pagi ini aku harus ke kantor, mungkin aneh jika aku hampir setiap
hari datang ke kantor, bukan untuk bekerja… semua pekerjaanku sudah dilakukan
oleh Minho, aku hanya duduk manis menatap wajahnya, kadang ia pun tak di kantor
karena sibuk rapat sana-sini. Menyebalkan.
Tok tok tok. “masuk” seorang
gadis yang tak lebih cantik dariku masuk ruangan dan berjalan kearah Minho
“anyyeong haseyo. Pak nanti sore
kita ada rapat di perusahaan utama, Nyonya Lee juga aka nada disana, bapak
harus bersiap-siap”
“baiklah. Terima kasih minji-ssi”
ck dia tersenyum pada si penggoda itu.
“yak Minho, kenapa kau tersenyum
pada minji?” ucapku ketus
“karena dia sekretarisku, dia
sudah banyak membantuku”.
“tak bisakah kau hanya tersenyum
untukku?”
“kau siapa?”
“yaakkk kau ini kenapa
menyebalkan sekali” setelah itu, “Minho”
“apa?”
“kenapa dulu kau bilang kalau
aku tidak boleh menunggumu?”
“kapan”
“waktu kau di Amerika”
“aku lupa”
“hei aku serius, kenapa kau melupakannya?
Bahkan disaat itu kau menciumku.”
“lupakan Taemin-ah”
“bagaimana aku melupakannya? Kau
dicuim dan di peluk oleh orang yang kau cintai, dan orang itu adalah cinta
pertamamu dan kau suruh aku melupakannya? Aku tidak bisa!!! Aku masih belum
mengerti, di umurmu yang sekarang tapi
kau masih seperti anak-anak. Kau tahu berapa tahun aku menunggu jawaban kenapa
kau bersikap seperti itu padaku, hampir setiap hari selama kurang-lebih 5 tahun
dan kau menyuruhku melupakannya?”
“aku tidak menyuruhmu
mengingatnya”
“tapi AKU MENCINTAIMU CHOI MINHO!!,
JADI SEBENARNYA KENAPA?”
“bisakah kita tidak bicara hal
itu disini?”
-------------------------------------------------------------
Ini sudah 2 tahun semenjak aku
berhenti bekerja dan memutuskan pergi dari kehidupan Minho, tempat ini,
suasananya sangat damai. Baru kali ini aku menyukai ketenangan, lebih menyukai
bintang malam dari pada lampu disko. Aku masih bisa hidup tanpa dia. Jujur saja
aku tak bisa melupakannya, namun dari pada terus berada di dekatnya dan terus
bertanya-tanya dan dia tidak pernah mau mengatakan apa yang ia inginkan lebih
baik aku pergi.
Aku bilang pada ibuku aku ingin
membuat novel dan mencari ketenangan, ia langsung bahagia dan menyetujuinya,
hanya itu caraku agar nenek sihir itu melepaskanku dari bayang-banyangnya. Dan
lihat, sekarang aku bukannya membuat novel tapi malah membuat kenangan-kenangan
masa lalu itu semakin jelas.
Dddrrrrrrtttt……drrtttttttt
Ponsel ku bergetar. Satu pesan.
“pergilah ke pantai di depan rumahmu maka kau akan temukan apa yang kau mau”.
Hah? Siapa ini? Nomor tak dikenal. Apa aku akan diculik? Apa dia penjahat?.
Dengan langkah yang penuh denganketakutan aku pergi ke pantai depan rumah. Aku
melihat ada meja dan 2 buah kursi disana, bahkan mejanya di hias seperti meja
makan restoran mewah, ada bunga di atas meja, cake stroberi kesukaanku, orang
bodoh mana yang memberiku cake malam-malam begini, aku akan gemuk jika kumakan
sekarang, mungkin aku akan memakannya besok.
Ddrrrrrrrrrtttt…..dddrttttt.
pesan lagi dengan nomor yang berbeda. “makan kuenya dan kau akan temukan apa
yang kau mau”. Aku mengedarkan pandanganku kesegalah arah, tadak ada
siapa-siapa. Baiklah apa yang aku inginkan akan terpenuhi jika makan kue ini,
kue ajaib. Dan aku tak ingin gemuk. Baiklah dengan berat hati aku makan kuenya.
Hmmmm…. Enak……eh apa ini??? Ada
apa di mulutku?? Aku mengeluarkannya dan oh.. CINCIN!!. Aku lihat cincinnya
begitu simple tapi terkesan mewah, eh ada ukiran nama di bagian dalam cincin.
Aku mengejanya karena penerangannya sangat minim. “CHOI MINHO” APA????????
Siapa yang berani mengerjaiku. Lelucon murahan.
Drrttt..dddrrrtttt…. pesan lagi.
Nomor yang berbeda. “Lihat ke belakang”. Aku segera melihat kebelakang dengan
ragu. OH GOD LIAHAT SIAPA YANG KUTEMUKAN. SEORANG LELAKI MENYEBALKAN BERNAMA MINHO
SEDANG MENGANGKAT TANGAN KANANNYA YANG DILINGKARI CINCIN YANG SAMA SEPERTI
PUNYAKU DI JARI MANISNYA.
Aku berlari dan segera memeluk Minho
“kenapa kau bisa ada di sini?”
“jangan panggil namaku Minho
jika aku tak bisa menemukanmu” dia memelukku. “Taemin-ah, kembalilah ke kantor”
“tidak”
“tentu saja tidak”
“apa maksudmu??”
“tidak sebagai patnerku, tapi
sebagai istriku. Eotte?”
“hm” aku memeluknya erat-erat.
CHU~ dia menciumku, sama seperti
dulu. Ciuman yang sama, rasa yang sama. Dan kali ini karena kami saling
mencintai.
“jawaban semua pertanyaanmu
adalalh karena aku belum siap mencintai gadis sesempurna dirimu. Dan sekarang
aku sudah siap sayang”, ia tersenyum dan mencium keningku.
Kami berpelukan di iringi suara
ombak yang menyaksikan kebahagiaan kami. <3
END