Pink Strawberry Taepaw World: Juni 2015

Halaman

Jumat, 26 Juni 2015

An Odd Eye

*gue males ngedit nya jadi maap kalo rada berantakan, nah terus ini cerpen yang gue kumpulin buat nilai akhir kajian prosa wkwk*

Matanya bersinar bagai mentari pagi. Sangat menyilaukan.
Senyumnya merekah bagai angin pagi  yang menerpa wajah ini. Sangat menyejukkan.
Mata hidung bibir rambut kulit jari-jemari. Semuanya!! Kenapa semua yang ada pada dirinya tampak sangat indah??
Entah sejak kapan aku mengenalnya, entah sejak kapan aku mulai mengaguminya. Entahlah.
Terkadang hati ini tergelitik sesekali untuk dapat menyentuhnya. Sekali saja. Berjabat tangan… apa salahnya??
         “Ayo cepat!! Kita harus ada di barisan paling depan. Aaaaakkhh sudah dua tahun aku menunggu kesempatan emas ini, tidak boleh terlewatkan!!.” Ucapku sambil memasukan barang-barang kedalam tas selempang biru dengan gambar kucing di depannya.
            “Iya iya tentu saja kita harus ada di barisan paling depan. Ini kan hari spesial. Oh iya, jangan lupa bawa hadiah yang sudah kita beli kemarin” jawab Yukka yang tak kalah bergegasnya dariku.
            Aku, Yukka, Ren dan Arissa, kami tinggal di rumah yang sama, rumah yang cukup kecil tapi penuh kebahagiaan. Kami berempat adalah mahasiswi di salah satu universitas swasta di Jepang. Aku dan Yukka berteman sejak SMP sedangkan Arissa kami berteman dengannya sejak bangku SMA, ibunya orang Jepang sedangkan ayahnya keturunan Prancis, ia besar di luar negri namun sejak SMA ia pindah ke Jepang dan saat itulah aku, Yukka dan Arissa bersahabat. Lalu Ren, kami bertemu dengannya di Universitas yang sama. Yah mungkin ini takdir tuhan aku dan sahabat-sahabatku sekarang ada di  unniversitas dan  jurusan yang sama. Kami berempat dikenal dengan sebutan “odd gurls” entahlah aku tidak terganggu dengan label nama yang seperti itu, aku dan ketiga temanku bahagia dengan dunia kami sendiri, kami juga tak mengganggu orang lain. Kami hanya menyukai… bukan…. lebih dari menyukai kami mengagumi, tergila-gila dan terobsesi pada hal yang sama.
            Hari ini aku dan sahabatku ini akan menghadiri fansign event  grup idola kami, sudah dua tahun aku menunggu kesempatan ini, aku akan bertemu dengannya, memberi hadiah untuknya, menatap matanya, kyaaaaaaaa aku-melihatnya-lebih-dekat-tanpa-ada-jarak-dan-bicara-dengannya-secara-langsung kyaaaaa aku sudah tidak sabar >.<. Membayangkannya saja sudah membuat jantung ini berdebar.
            Kuambil cermin kecil dalam tas yang sedari tadi tergantung di bahuku, mengeluarkannya dan kulihat bayangan wajah ini yang semakin merona, aku benar-benar gugup. Tampaknya aku sedikit berkeringat karena tempat ini cukup sesak karena banyaknya fans yang hadir. Kusapukan keringaat ini dengan tisu, kemudian sedikit membubuhi bedak di wajah ini agar tampak sempurna, dan tak lupa aku merapikan rambutku yang sengaja aku kuncir karena disini cukup panas. Hari ini aku memakai dress yang beberapa bulan lalu kubeli di sebuah butik langgananku, warna biru lembut yang senada dengan tas dan ikat rambut, serta sedikit sentuhan garis berwarna merah membuat penampilanku hari ini tampak lebih cerah dari biasanya. Aku harus tampak sempurna di depan orang yang spesial. Kuharap ini akan jadi hari yang baik.
***
            Akhirnya setelah hampir satu jam menunggu ditengah barisan yang cukup sesak ini tiba giliranku untuk menyapa dan memintanya menandatangani album yang kubeli beberapa hari lalu. Kulangkahkan kaki dengan santai menuju tempatnya duduk dengan manis dan penuh senyum, tapi entah kenapa jantung ini berdebar kencang hingga tak dapat kukendalikan, ayolah Sachi jangan gugup, hanya tiga menit kesempatanmu bersamanya lebih dekat.
            Aku tersenyum padanya dan ia membalas senyumanku, senyuman yang biasanya kulihat di televisi dan poster-poster yang kupajang di dinding. Sungguh melihatnya secara langsung tepat di depan mata ini membuat pikiran seakan terhipnotis hingga aku tak tau ingin bicara apa padanya, ia jauh lebih tampan jika dilihat nyata seperti ini. Baiklah Sachi jangan lengah, lakukan sebagaimana mestinya. Kemudian aku menyerahkan albumku padanya untuk ditanda tangani.
           “Siapa namamu?” Tanyanya padaku dengan suaranya yang sangat lembut dan melelehkan hati.
            “Sachi… Yuu Sachiko” kataku gugup.
            Kemudian ia menulis namaku di album itu kemudian membubuhkan tanda tangannya. Sembari ia menanda tangani albumku aku meletakan bingkisan hadiah di meja di sampingnya, menejernya segera mengambil hadiah yang kuberikan dan meletakkannya bersama hadiah dari fans lain. Ia berkata “terima kasih” lalu memberikan album yang sudah ditanda tangani padaku.
            “Ya sama-sama. Uhm… sebelum pergi aku menyiapkan berbagai hal yang ingin kukatakan, tapi entah mengapa sekarang aku lupa semuanya” ucapku dengan nada yang sengaja ku rendahkan agar rasa bahagia ini tidak terlalu terekspos.
            “Aku akan menunggu sampai kau ingat apa yang ingin kau katakan J” katanya sambil tersenyum, senyum yang biasanya hanyaku lihat dari depan layar ponsel atau laptop.
“Taemin…. Maukah kau berjanji padaku?” kataku gugup.
            “Ya… apa itu?”
            “Berjanjilah tetap menjadi SHINee selamanya apapun yang terjadi. Jangan pernah tinggalkan grup.” Kataku sambil mengulurkan jari kelingkingku padanya. KYAAAAA sebentar lagi jari kelingkingku dan kelingkingnya bertautan, aku menyentuhnya ><.
            “Tentu saja. Aku janji.” Ia juga mengulurkan jari kelingkingnya padaku.
            TAPI………………..
            Ketika ia jari kami hampir bersentuhan sebuah tangan memisahkan jari kami. Yaaaakkk menejer Ho APA YANG KAU LAKUKAAAAN???? . “Maaf nona kau tidaak boleh melakukannya, lagi pula masih banyak yang antre di belakang. Silakan kembali…” kata menejer Ho lemah lembut padaku. Yaaah lemah lembut tapi tetap saja aku tak terima. Ya tuhan kenapa ia terasa lebih jauh setelah aku melihatnya dengan jarak yang sangat dekat? Apa sesulit itu? Kenapa jarak aku dan dirinya terasa sangat jauh sekarang?. Aku segera berjalan dan kembali menuju tempat fans lain yang berkumpul sekedar untuk memoto dan melihat wajah tampan para idola ini.
            Wajah-wajah orang disini sangat bersinar dan penuh semangat begitu juga dengan ketiga temanku yang daritadi tak henti-hentinya berteriak memanggil-manggil nama sang idola, tentu saja, siapa yang tak bahagia bertemu dengan idolanya sedekat ini. Aku bahagia, sangat bahagia, iya…. Aku bahagia. Namun ada sesuatu hal yang masih membuatku penasaran. Aku ingin menyentuh tangan itu. Ingin sekali. Bagaimana caranya?
***
            “Yaa… Yuu Sachiko!! Kenapa wajahmu seperti itu? Kita baru saja bertemu dengan SHINee, orang yang kita idolakan sejak 7 tahun lalu dan sekarang setelah bertemu dengannya kau malah pasang wajah seperti habis bertemu dengan nenekmu yang galak itu?? Apa yang terjadi denganmu?.” Ucap Ren penuh heran padaku. Yah aku bisa liat wajah teman-temanku ini yang tampak bingung dengan sikapku setelah beberapa jam lalu. Entahlah aku tidak bisa menjelaskan perasaanku saat ini.
            “Entahlah, aku sedang tidak enak badan. Sepertinya.” Jawabku singkat lalu masuk ke kamarku.
            “Sachi kenapa sikapmu aneh begini. Ayolah…. Aku tau dirimu lebih baik dari pada dirimu sendiri, kau tak biasanya seperti ini. Coba ceritakan pada kami, mungkin akan membuatmu lebih baik.” Tambah Yukka sedikit meninggikan nada bicaranya.
            “oke baiklah apa yang ingin kalian dengar?” tanyaku santai.
“Oke baiklah baiklah Sachi, seperti biasa kau ini selalu menyebalkan. Jadi apa yang kau rasakan saat ini?”
“Entahlah, aku… hm…. Aku ingin…hm.. entahlah aku ingin memegang tangannya” jawabku sambil membayangkan kejadian tadi siang yang membuat hatiku remuk berkeping-keping.
“Tangan? Tangan siapa?” Tanya Arissa penasaran.
“Sachi tolong bicara yang jelas, apa yang kau bicarakan? Tangan siapa yang ingin kau pegang?” jawab Yukka tak kalah penasaran.
“Kaliaan tentu tau jawabannya. Tangan siapa lagi kalau bukan tangan Lee Taemin.”
“Ooohh itu, bukan hanya kau saja, tentu saja aku juga mau. Apalagi tangan Kim Jonghyun. Lalu kenapa kau jadi begini huh?” jawab Yukka menanggapi dengan santai.
“Tadi aku hampir saja memegang tanggannya, tapi dihalangi oleh menejer Ho, menyebalkan >< girls apa kalian tidak ingin memegang tangan mereka?”
“Jika ingin memegang tangannya kau culik saja mereka, bukan cuma bisa memegang tangan mau apapun juga bisa. Kau ini ada-ada saja Sachi.” Timpal Ren dengan santai. Tapi aku menanggapi pernyataannya dengan pandangan berbeda, ini terdengar seperti sebuah ide. Konyol mungkin, tapi aku tergelitik ingin mencobanya. Menculik sebuah idol grup haha terdengar konyol tapi……….. entahlah.
“Ide bagus!!! Menculik sebuah idol grup yang baru saja merilis album baru. Ini akan menjadi hot news setelah kita melakukannya” jawabku.
“Hah? Apa kita benar-benar akan melakukannya? Ren kan hanya bercanda” kata Arissa dengan ekspresinya yang khas.
“Kita harus menyusun strategi” kataku tanpa mempedulikan Arissa yang keheranan.
“Baiklah jika itu yang kau inginkan, aku ikut. Yang lain bagaimana? Ini akan jadi satu-satunya kesempatan kita jika ingin lebih dekat dengan mereka.” Kata Yukka setuju.
“Bagaimana kalau kita gagal? Ayolah kita harus pikirkan ini baik-baik, yang kita lakukan adalah tindakan kriminal.”jawab Ren tak kalah keheranannya dengan Arissa.
“Kalau gagal kita akan masuk penjara. Eh… tidak…. Belum tentu. Lakukan saja dulu yang lain kita pikirkan nanti. Makanya kita harus atur strategi supaya kita tidak gagal.” Jawab Yukka.
“jadi bagaimana? Siapa yang punya ide?” Tanya Arissa.
***
            SHINee itu selalu pergi bersama ke tempat gym sekitar pukul 9 atau 10 malam, hal yang harus kami lalukan adalah menyelinap kedalam mobil yang mereka kendarai kemudian bersembunyi di dalamnya, setelah mereka naik mobil kita harus segera beraksi. Setelah itu barulah kita bawa mereka ke lokasi tujuan. Ini lebih dari sekedar penculikan tapi juga pembegalan, maafkan kami SHINee kami tidak bermaksud menyakiti kalian.
            Langkah pertama. Pakai topeng lalu bersembunyi diantara mobil-mobil yang sedang parkir ini, tunggu sampai ada kesempatan untuk masuk kedalam mobil. Jika tidak dapat kesempatan rencana kedua adalah kita harus benar-benar nekad membegal mereka secara langsung. Oh tuhan, kumohon berilah kami jalan. Bingo!!! Hari ini Taemin yang mengendarai mobilnya, aku yakin dia pasti lupa mengunci mobilnya, disinilah aku dan yang lain mengambil kesempatan.
            “Ayo!! Kita harus segera masuk!! Jangan lupa kita harus menjatuhkan korban terlebih dahulu supaya yang lain datang mencari Taemin” kata Yukka sebagai ketua kami.
            Aku dan yang lain mengendap-ngendap kedalam mobil sedangkan Yukka menunggu di luar untuk menjalankan aksinya. Aku benar-benar gugup dan penasaran akan aksi Yukka yang paling nekad diantara kami. Dari dalam mobil aku liat Taemin datang sendiri ia pasti ingin mengunci mobilnya. Aku segera bersembunyi di dalam mobil. KYAAAAA aku mendengar kegaduhan di luar, pasti Yukka sedang beraksi hahaha. Beberapa saat kemudian Yukka membuka pintu dan meletakan Taemin yang sedang pingsan ke tempat duduk di mobil. Selanjutnya kami bersembunyi di mobil dan menunggu yang lain datang.
            “Sssstttt Rissa sebenarnya obat apa ini? Kenapa reaksinya cepat sekali? Aku jadi kasian melihat Taemin.” Kata Yukka berbisik-bisik pada Arissa.
            “Entahlah aku juga tidak tau, aku memintanya pada temanku yang jurusan biologi. Sudahlah kalian tenang saja itu aman kok, aku sudah bilang pada temanku untuk dicarikan obat bius yang reaksinya cepat tapi aman untuk manusia, lalu ia memberikan itu padaku.”
            “Untuk manusia? Jadi maksudmu ini sebenarnya bukan untuk manusia?”
            “Entahlah, sudah jangan banyak tanya lakukan saja misi kita.”
            Sekitar satu jam kami menunggu di dalam mobil, tapi yang lain tidak kunjung datang. Apa mereka tidak mengkhawatirkan si bungsu yang satu ini? Atau mungkin Taemin memang suka pergi sendirian ketika yang lain sedang sibuk berolah raga? Terserahlah yang penting sekarang misi kami harus berjalan sesuai rencana. Huh tapi lama-lama pinggangku sakit juga bersembunyi seperti ini, yang lain sepertinya juga sama, ini benar-benar gila.
            “Ah mereka mendekat!!! Girls siap-siap!!! Cepat tuangkan obat ini ke sapu tangan masing-masing. Berusahalah tenang dan jangan gugup. Okeh.” Kata Yukka sang ketua.
            Key membuka pintu mobil dan mendapati Taemin yang pingsan “Dasar anak ini bukannya mengunci mobil malah tidur disini. Untung tidak dibegal orang.” Kemudian pria berwajah manis ini masuk dan duduk disebelah Taemin, lalu yang lain ikut masuk, kali ini Minho yang duduk di tempat kemudinya. Baiklah ini saatnya. Tuhan tolong selamatkan kami.
            Arissa dengan cepat menyekap Key dari belakang dan membuatnya pingsan, sedangkan aku bergerak menuju Onew tapi ia melakukan perlawanan membuatku panik tapi aku harus professional, melawan lelaki memang sulit jadi aku sudah persiapkan senjata cadangan dari rumah, aku semprotkan air ke wajah Onew hingga ia hilang fokus kemudian tanganku dengan cekatan menyekapnya dengan sapu tangan yang sudah kutuangkan obat bius, maafkan aku Onew. Berbeda denganku Ren malah dengan santai melumpuhkan Minho. Yukka justru hilang kendali setelah melihat wajah Jonghyun kesayangannya, bukannya menyekap ia malah perteriak histeris “KIM JONGHYUN KAU TAMPAN SEKALI!!!!”, untung saja Jonghyun ini keheranan jadi Ren segera membekapnya sampai pingsan, kalau ia melawan entah apa yang akan terjadi pada kami. Dasar Yukka, ia langsung kehilangan karisma sebagai pemimpin tindakan kriminal ini hanya karena melihat idolanya -,-.
            Setelah semuanya pingsan, kami mengambil ahli kendali dan membawa mereka menuju suatu tempat. Tempatnya cukup terpencil, ini salah satu tempat aku dan teman-temanku tersesaat saat darmawisata sejurusan tahun lalu. Kurasa ini tempat yang tepat untuk kami dan SHINee bertualang bersama. Sesampainya di tempat tujuan aku dan yang lain mulai kelelahan sedangkan SHINee tak kunjung bangun hingga tanpa sengaja kami ketiduran di mobil. Karena fokus pada misi kami jadi lupa pada tujuan awal ‘memegang-tangan-mereka” hahaha.
***
            Matahari mulai menampakan sinarnya, aku terbangun dan melihat jam tanganku, jam 5 pagi. Kulihat kesekeliling ah aku ketiduran semalam. Kulihat sosok pria disampingku, wajah yang begitu tenang dan letih, aku jadi merasa bersalah karena melakukan ide gilaku ini, terselip niat untuk mengakhiri semua dan melepas mereka tapi ini sudah kepalang tanggung, jadi lanjutkan saja, setidaknya biarkan aku mencurahkan isi hatiku padanya nanti, setelah itu terserah ia ingin pergi atau bagaimana. Selesai melamun aku segera membangunkan teman-temanku dan keluar dari mobil, membiarkan lima pangeran ini bergulat dengan mimpinya hingga ia bangun nanti.
            “SIAPA KALIAN???!!!” baru saja kami keluar mobil dan duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawa setelah semalam kami melakukan tindakan gila, pria-pria ini meneriaki kami hingga membuatku kaget. Segera kulihat kearah belakang dan mereka berlima sudah berdiri dan matanya yang menatap kami tajam. Mereka marah, tentu saja, tapi aku tidak  ingin mereka membenci aku dan teman-temanku, aku akan coba jelaskan. Tidak, tidak menjelaskan tapi langsung saja ke rencana, ajak mereka sejenak melepaskan dunia keartisannya. Aku menggenggam tangan Key dan menuntunnya untuk mengikutiku, yang lain dengan keheranan juga mengikutiku. Kami melewati pepohonan lebat dan semak belukar, aku lihat wajah mereka penuh takjub dengan keindahan alam namun dicampur ekspresi bingung dan waspada. Setelah melewati hutan kami menemukan jalan raya, ini jalan tempat kami tersesat waktu itu. Kami menunggu mobil yang lewat dan aku hendak meminta tumpangan.
            “Sebenarnya kalian siapa?”  tanya Key. “Apa yang kalian inginkan dari kami” tambahnya.
            “Kami bukan siapa-siapa, nikmati saja perjalanan ini jangan banyak tanya!!” kata Yukka tegas.
            “Ah ayo kita naik mobil bapak itu!! Ia mau menumpangi kita” kataku menarik tangan Taemin berlari ke arah mobil yang akan menumpangi kami, yang lainpun mengikuti.
            Suasana yang berbeda, tidak seperti di Tokyo, tempat ini penuh dengan nuansa tradisional Jepang, bagaimana tidak kami sekarang berada di perkampungan yang cukup terpencil, suasananya asri dan tenang, cocok jika ingin sedikit melepaskan beban pikiran dari kerasnya kota yang penuh liku. Kami berjalan menuju ke pasar tradisionalnya, aku mengajak SHINee untuk menyicipi makanan tradisional yang enak-enak, mereka tampak sangat menikmati perjalanan ini, mereka mulai terbiasa dan santai. Inilah yang aku mau.
            “Hm…. Ini udon terenak yang pernah aku cicipi,,, “ kata Onew
            “Iya,,, senangnya jalan-jalan kesini, tidak ada yang mengenal kita, bisa jalan sepuasnya” tambah Taemin.
            “Apa kalian senang??” tanyaku.
            “Yah!! Tentu saja. Aku kira kalian akan menculik dan menelpon menejer kami lalu meminta uang tebusan dan sejenisnya” kata Taemin.
            “Sebenarnya kami memang butuh suasana seperti ini tapi selalu saja tidak sempat karena jadwal yang begitu padat. Aku pribadi berterima kasih pada kalian” kata Key menambahkan. Aku lega mendengarnya. Aku senang jika pangeranku ini senang.
            Eh eh bukannya itu  SHINee?? Aku pernah melihatnya di televisi. Apa yang mereka lakukan di kampung ini? Apa mereka akan melakukan pemotretan? Waaaah mereka tampan yah ><. Beberapa remaja disini sepertinya mengenal SHINee, ah aku kesini beberapa tahun lalu, pasti kampung ini sudah lebih maju daripada sebelumnya, pengaruh grup idol sekelas SHINee ternyata sudah sampai ke pelosok Jepang sekalipun, aku benar-benar kagum tapi dibalik itu aku juga khawatir pada pangeranku ini jika kondisinya seperti ini. Ah sial!! Harusnya aku bawa mereka ke Zimbabwe saja agar aman kekeke~. Aku lihat SHINee sudah tampak tak nyaman. aku juga mulai gugup bagaimana jika mereka diserang remaja disini??.
***
            Aku bahkan tak pernah membayangkannya. Bermimpipun tak pernah. Tangan itu kini dapat kurasakan.
            Kulihat wajah SHINee yang mulai tak nyaman, aku tak tau harus berbuat apa saat remaja-remaja ini mulai berjalan mendekati para pangeran ini. Bahkan tak pernah kubayangkan sebelumnya hal ini akan terjadi. Tanpa kusadari seseorang menggenggam tanganku erat, menyeretku lalu aku mulai hanyut kedalam suasana hingga kaki ini ikut berlari mengikuti irama detak jantungku yang mulai bergemuruh. Entahlah berlari seperti ini bahkan bukan lelah yang kuasakan tapi malah perasaan bahagia yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Yah sekarang aku sedang berlari bersamanya, seakan sedang mengejar masa depan. Ditengah perjalanan bahkan aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri tangan ini membawaku ke belokan hingga aku hilang keseimbangan dan tubuhku tertabrak ke tubuhnya, “aw….”,
            “huft… huft… huft…..  maaf aku menarikmu kuat sekali. Apa tanganmu sakit? Apa kau lelah?” kata Taemin dengan nafas yang terengah-engah. Aku dapat merasakan deru nafasnya karena posisi kami yang begitu dekat. Aku dapat melihat wajah indahnya dengan sangat jelas, mata itu, mata yang sangat indah namun tak bias kubaca. Keringatnya perlahan mengalir membuatku hilang konsentrasi. Untuk beberapa saat kami saling berpandangan. Deg… deg…deg…deg….deg……..
            “Huft..huft.. tidak, tidak apa-apa. Apa kau baik-baik saja? Maaf… maaf karena telah membawamu kedalam masalah. Maafkan aku.” Kataku penuh penyesalan. Aku menundukan mukaku, menatap tepat kebawah. Kemudian mundur beberapa langkah darinya. Aku sungguh malu.
            “Tidak apa-apa, tidak usah merasa bersalah seperti itu. Yang penting sekarang kita sudah selamat.” Kemudian ia duduk di lantai tanpa peduli bajunya yang akan kotor, yah kami sekarang ada di sebuah gang buntu, disekeliling kami penuh dengan tumpukan sampah kaleng dan botol minuman. Sejenak kami melepas penat di gang ini.
            “………..” diam. Untuk beberapa saat kami saling diam dan sibuk dengan pikiran masing-masing. Kemudian aku memberanikan diri memulai percakapan, “Bahasa Jepangmu bagus juga.” Kataku singkat.
            “Aku belajar bertahun-tahun sebelum kami melakukan debut Jepang.” Katanya. Kemudian hening.,,,,,,, ia bicara lagi, ”Aku tidak pernah membayangkan hal ini akan terjadi, kukira fans kami tidak ada yang senekad dirimu dan teman-temanmu itu. Apa semua gadis Jepang sepertimu? Kekekek~ Awalnya aku kaget dan merasa takut juga sedikit tak nyaman. tapi setelahku jalani ini cukup menyenangkan.” Katanya sambil tersenyum singkat.
            “Apa sekarang kau senang?” tanyaku.
            “Entahlah, aku tak bisa menjelaskan perasaanku, disisi lain aku merasa sangat senang dan berterimakasih padamu, tapi disisi lain ada perasaan aneh yang kurasakan, mungkin karena ini sedikit asing bagiku….”
            “Apa boleh aku menanyakan sesuatu?” kataku lagi.
            “Apa itu?”
            “Apa kau ingat aku??” tanyaku penasaran.
            “Kau…hm… beri tahu aku jika aku salah. Hm.. bukankah kau yang waktu itu memintaku berjanji agar bertahan bersama SHINee??” katanya sambil berpikir, ah ekspresi itu… lucu.
            “Ah, kau masih ingat rupanya. Lalu apa jawabanmu?”
            “Tentu saja aku berjanji. Aku akan bertahan demi jutaan fans diluar sana, karena bagiku mereka segalanya.”
            Aku mengulurkan jari kelingkingku padanya, persis seperti saat aku bertemu pertama kali dengannya, kuharap kali ini tidak gagal lagi. Kemudian dengan senyumnya yang cerah ia mengaitkan kelingkingnya di kelingkingku, tangan kirinya bahkan menggenggam jari kami yang sedang bertautan. “Aku berjanji.” Katanya. Lagi-lagi pandangan kami bertemu, aku seakan terhipnotis dengan keindahan bola mata itu, bola mata bening yang dihiasi lensa kontak  berwarna abu-abu, sangat cocok dengannya. Pemandangan yang sangat indah. Aku terdiam dan fokus pada bola mata itu untuk beberapa saat, tanpa sadar bibir ini mengukir senyum untuknya.
            “Matamu asing bagiku, namun sangat nyaman dipandang. Aku merasakan ketulusan dan kedamaian di dalamnya. Aku belum pernah menatap seseorang sedalam ini. Kita belum pernah saling bertemu secara individual tapi aku merasakan perasaan seakan kita sudah saling mengenal selama bertahun-tahun. Terimakasih telah mendukungku selama ini.” Katanya sambil terus menatapku.
            Aku menunduk, mencoba mengalihkan pandangan. Tuhan tolong aku, jantungku seakan akan meledak aku bahkan tak bisa mengendalikan pikiranku. Bagaimana ini?. “Hm… aku berjanji akan bertahan sampai akhir, sampai aku tak bisa bertahan lagi di dunia ini. Tentu saja aku akan mendukung kalian selama yang kumampu” kataku lirih.
            Ia mengelus pucuk kepalaku sambil tersenyum “terimakasih”. Katanya singkat.
***
Sesuatu terjadi. Ini aneh. Mungkin ini akhir segalanya.
“aw!! BERHENTI MENARIKKU!!! Lepaskan aku!!!” mereka menarik-narikku kuat sekali, aku bukan penjahat, aku hanya menyayangi mereka aku hanya ingin lebih dekat dengannya, aku tak akan menyakitinya tapi orang-orang ini menyakitiku. Mereka pergi.
Yah apa lagi yang lebih buruk dari pada kau yang sekarang sedang ditarik dan dipaksa naik ke atas mobil yang asing. Aku tahu orang ini pasti sedang mencariku atas tuduhan tindak kriminal, penculikan artis terkenal yang sedang naik daun. Aku memang tak pernah berpikir ini akan terjadi, bukan… bukan tak memikirkannya tapi aku tidak peduli. Yah memang kami hanya sekumpulan gadis aneh dan bodoh yang terobsesi pada sekumpulan pria yang bagai bulan purnama, terlihat dekat tapi pada kenyataannya mereka sangat jauh hingga aku tak dapan menggapainya.
“Bisakah kalian bertindak sedikit sopan pada seorang gadis???” kata Jonghyun pada orang-orang ini. “kami tidak apa-apa, mereka bahkan tidak menyakiti kami. Lepaskan mereka!!” tambahnya.
“Tapi mereka adalah gadis pembuat onar, mereka harus ditindak lanjuti di kantor polisi.” Kata seorang lelaki bertubuh kekar yang sedang mencengkram tanganku kuat.
“LEPASKAN MEREKA KATAKU!!!” kata Jonghyun setengah berteriak. Aku kaget dan terdiam sejenak. Aku tak pernah melihat mereka marah sebelumnya. Yang selama ini kulihat mereka hanyalah pangeran penuh senyum dan sangat lembut. Tanpa sadar butiran kristal cair mengalir dari pelupuk mataku. Apa mereka marah karena aku dan teman-temanku membawa mereka ke dalam masalah, apa mereka terbebani karena ide gilaku? Atau mereka ingin melindungi kami.
“Lepaskan mereka sebelum wartawan menemukan kita, aku tak ingin gadis-gadis ini dalam masalah.” Kata Minho.
“Tapi ini melanggar hukum, gadis-gadis ini harus diberi pelajaran agar tak terjadi hal serupa” kata seorang lelaki kekar lainnya yang sedang mencengkram tangan Yukka.
“Apa kalian ingin kami dalam masalah? jika mereka terekspos ke media bukan hanya mereka yang dalam masalah, tapi kami juga. Sudahlah, lepaskan saja mereka dan kita pulang lalu suruh yang lain mengalihkan perhatian media agar masalahnya tak jadi panjang.” Kata Taemin tampak gusar menanggapi masalah ini.
Perlahan para lelaki ini melepaskan kami, kemudian mengarah ke SHINee dan membawa mereka pergi menjauh dari pandangan kami. Semakin jauh, aku hanya melihatnya tak berusaha mengucapkan selamat tinggal, maaf atau terimakasih. Ini terlalu sulit dipercaya, apa kisahku akan berakhir seperti ini? Sangat tragis……
Perpisahan itu, perpisahan tanpa kata. Mereka pergi meninggalkan bayangan dan kenangan. Bagai matahari yang tenggelam digantikan cahaya rembulan.
Bulan matahari… mereka sama saja, tak akan bisa kucapai.
Air mata ini bukan pertama kalinya jatuh karena mereka, ini yang kesekian kalinya, sakit, tapi justru mereka jualah obatnya. Aneh… memang aneh.
Mata itu terasa asing bagiku saat ia meninggalkanku. Entah kapan kegilaan ini berakhir, entah kapan air mata ini berhenti menetes untuk mereka, entah kapan jantung ini berhenti berdetak untuk mereka, entahlah kenapa hidupku serumit ini saat mengingat mereka.
Tapi aku bagai terjatuh kedalam lubang hitam tanpa ujung hingga aku tak bisa mendaki dan keluar dari sini, kegelapan ini terasa nyaman karena aku melihat cahaya didalam kegelapan itu. Rumit memang,,,, bahkan aku tak mengerti tentang semua ini. Hingga air mata ini mengalir membuat aliran sungai di pipiku.
***
KRIIIIIINGG………KRIIIIIIIIINGGGG……KRIIIIIING!!!!! PRAANGGGG!!!!
“YUU SACHIKO!! Kenapa kau melempar jam alarm baruku????????” kata Yukka memukul pinggangku keras.
“aw!! Sakiit!! Kau ini kasar sekali!!” kataku meringis kesakitan.
“eh? Matamu bengkak, apa kau menangis semalaman? Eh.. tapi aku tidak tidur semalam, aku melihatmu tidur. Eh? Kau kenapa Sachi??” tanyanya keherahan.
Aku memegang pipiku yang basah. Apa? Apa yang terjadi? Apa ini mimpi? Jadi….. Oh Tuhan bodohnya aku menangis dalam tidur. Syukurlah tenyata ini mimpi J. “ah tidak… hanya saja sepertinya semalam aku mimpi buruk >.<” kataku tersenyum tipis.
“huft aku tak menyangka, gagal memegang tangan Taemin sampai terbawa mimpi begitu. bodoh!” kata Yukka memukul pucuk kepalaku pelan. “Ayo kita harus kekampus hari ini, bersiap-siaplah.”

**END**