*gue males ngedit nya jadi maap kalo rada berantakan, nah terus ini cerpen yang gue kumpulin buat nilai akhir kajian prosa wkwk*
Matanya
bersinar bagai mentari pagi. Sangat menyilaukan.
Senyumnya
merekah bagai angin pagi yang menerpa
wajah ini. Sangat menyejukkan.
Mata
hidung bibir rambut kulit jari-jemari. Semuanya!! Kenapa semua yang ada pada
dirinya tampak sangat indah??
Entah
sejak kapan aku mengenalnya, entah sejak kapan aku mulai mengaguminya.
Entahlah.
Terkadang
hati ini tergelitik sesekali untuk dapat menyentuhnya. Sekali saja. Berjabat
tangan… apa salahnya??
“Ayo cepat!! Kita harus ada di barisan paling depan.
Aaaaakkhh sudah dua tahun aku menunggu kesempatan emas ini, tidak boleh terlewatkan!!.”
Ucapku sambil memasukan barang-barang kedalam tas selempang biru dengan gambar
kucing di depannya.
“Iya iya tentu saja kita harus ada di barisan paling
depan. Ini kan hari spesial. Oh iya, jangan lupa bawa hadiah yang sudah kita
beli kemarin” jawab Yukka yang tak kalah bergegasnya dariku.
Aku, Yukka, Ren dan Arissa, kami tinggal di rumah yang
sama, rumah yang cukup kecil tapi penuh kebahagiaan. Kami berempat adalah
mahasiswi di salah satu universitas swasta di Jepang. Aku dan Yukka berteman
sejak SMP sedangkan Arissa kami berteman dengannya sejak bangku SMA, ibunya
orang Jepang sedangkan ayahnya keturunan Prancis, ia besar di luar negri namun
sejak SMA ia pindah ke Jepang dan saat itulah aku, Yukka dan Arissa bersahabat.
Lalu Ren, kami bertemu dengannya di Universitas yang sama. Yah mungkin ini
takdir tuhan aku dan sahabat-sahabatku sekarang ada di unniversitas dan jurusan yang sama. Kami berempat dikenal
dengan sebutan “odd gurls” entahlah
aku tidak terganggu dengan label nama yang seperti itu, aku dan ketiga temanku
bahagia dengan dunia kami sendiri, kami juga tak mengganggu orang lain. Kami
hanya menyukai… bukan…. lebih dari menyukai kami mengagumi, tergila-gila dan
terobsesi pada hal yang sama.
Hari ini aku dan sahabatku ini akan menghadiri fansign event grup idola kami, sudah dua tahun aku menunggu
kesempatan ini, aku akan bertemu dengannya, memberi hadiah untuknya, menatap matanya,
kyaaaaaaaa
aku-melihatnya-lebih-dekat-tanpa-ada-jarak-dan-bicara-dengannya-secara-langsung
kyaaaaa aku sudah tidak sabar >.<.
Membayangkannya saja sudah membuat jantung ini berdebar.
Kuambil cermin kecil dalam tas yang sedari tadi
tergantung di bahuku, mengeluarkannya dan kulihat bayangan wajah ini yang
semakin merona, aku benar-benar gugup. Tampaknya aku sedikit berkeringat karena
tempat ini cukup sesak karena banyaknya fans yang hadir. Kusapukan keringaat
ini dengan tisu, kemudian sedikit membubuhi bedak di wajah ini agar tampak
sempurna, dan tak lupa aku merapikan rambutku yang sengaja aku kuncir karena
disini cukup panas. Hari ini aku memakai dress yang beberapa bulan lalu kubeli
di sebuah butik langgananku, warna biru lembut yang senada dengan tas dan ikat
rambut, serta sedikit sentuhan garis berwarna merah membuat penampilanku hari
ini tampak lebih cerah dari biasanya. Aku harus tampak sempurna di depan orang
yang spesial. Kuharap ini akan jadi hari yang baik.
***
Akhirnya setelah hampir satu jam menunggu ditengah
barisan yang cukup sesak ini tiba giliranku untuk menyapa dan memintanya
menandatangani album yang kubeli beberapa hari lalu. Kulangkahkan kaki dengan
santai menuju tempatnya duduk dengan manis dan penuh senyum, tapi entah kenapa
jantung ini berdebar kencang hingga tak dapat kukendalikan, ayolah Sachi jangan
gugup, hanya tiga menit kesempatanmu bersamanya lebih dekat.
Aku tersenyum padanya dan ia membalas senyumanku,
senyuman yang biasanya kulihat di televisi dan poster-poster yang kupajang di
dinding. Sungguh melihatnya secara langsung tepat di depan mata ini membuat pikiran
seakan terhipnotis hingga aku tak tau ingin bicara apa padanya, ia jauh lebih
tampan jika dilihat nyata seperti ini. Baiklah Sachi jangan lengah, lakukan
sebagaimana mestinya. Kemudian aku menyerahkan albumku padanya untuk ditanda
tangani.
“Siapa namamu?” Tanyanya padaku dengan suaranya yang
sangat lembut dan melelehkan hati.
“Sachi… Yuu Sachiko” kataku gugup.
Kemudian ia menulis namaku di album itu kemudian membubuhkan
tanda tangannya. Sembari ia menanda tangani albumku aku meletakan bingkisan
hadiah di meja di sampingnya, menejernya segera mengambil hadiah yang kuberikan
dan meletakkannya bersama hadiah dari fans lain. Ia berkata “terima kasih” lalu
memberikan album yang sudah ditanda tangani padaku.
“Ya sama-sama. Uhm… sebelum pergi aku menyiapkan berbagai
hal yang ingin kukatakan, tapi entah mengapa sekarang aku lupa semuanya” ucapku
dengan nada yang sengaja ku rendahkan agar rasa bahagia ini tidak terlalu terekspos.
“Aku akan menunggu sampai kau ingat apa yang ingin kau
katakan J”
katanya sambil tersenyum, senyum yang biasanya hanyaku lihat dari depan layar
ponsel atau laptop.
“Taemin…. Maukah
kau berjanji padaku?” kataku gugup.
“Ya… apa itu?”
“Berjanjilah tetap menjadi SHINee selamanya apapun yang
terjadi. Jangan pernah tinggalkan grup.” Kataku sambil mengulurkan jari
kelingkingku padanya. KYAAAAA sebentar lagi jari kelingkingku dan kelingkingnya
bertautan, aku menyentuhnya ><.
“Tentu saja. Aku janji.” Ia juga mengulurkan jari
kelingkingnya padaku.
TAPI………………..
Ketika ia jari kami hampir bersentuhan sebuah tangan
memisahkan jari kami. Yaaaakkk menejer Ho APA YANG KAU LAKUKAAAAN???? . “Maaf
nona kau tidaak boleh melakukannya, lagi pula masih banyak yang antre di
belakang. Silakan kembali…” kata menejer Ho lemah lembut padaku. Yaaah lemah
lembut tapi tetap saja aku tak terima. Ya tuhan kenapa ia terasa lebih jauh
setelah aku melihatnya dengan jarak yang sangat dekat? Apa sesulit itu? Kenapa
jarak aku dan dirinya terasa sangat jauh sekarang?. Aku segera berjalan dan
kembali menuju tempat fans lain yang berkumpul sekedar untuk memoto dan melihat
wajah tampan para idola ini.
Wajah-wajah orang disini sangat bersinar dan penuh
semangat begitu juga dengan ketiga temanku yang daritadi tak henti-hentinya
berteriak memanggil-manggil nama sang idola, tentu saja, siapa yang tak bahagia
bertemu dengan idolanya sedekat ini. Aku bahagia, sangat bahagia, iya…. Aku
bahagia. Namun ada sesuatu hal yang masih membuatku penasaran. Aku ingin
menyentuh tangan itu. Ingin sekali. Bagaimana caranya?
***
“Yaa… Yuu Sachiko!! Kenapa wajahmu seperti itu? Kita baru
saja bertemu dengan SHINee, orang yang kita idolakan sejak 7 tahun lalu dan
sekarang setelah bertemu dengannya kau malah pasang wajah seperti habis bertemu
dengan nenekmu yang galak itu?? Apa yang terjadi denganmu?.” Ucap Ren penuh
heran padaku. Yah aku bisa liat wajah teman-temanku ini yang tampak bingung
dengan sikapku setelah beberapa jam lalu. Entahlah aku tidak bisa menjelaskan
perasaanku saat ini.
“Entahlah, aku sedang tidak enak badan. Sepertinya.”
Jawabku singkat lalu masuk ke kamarku.
“Sachi kenapa sikapmu aneh begini. Ayolah…. Aku tau
dirimu lebih baik dari pada dirimu sendiri, kau tak biasanya seperti ini. Coba
ceritakan pada kami, mungkin akan membuatmu lebih baik.” Tambah Yukka sedikit
meninggikan nada bicaranya.
“oke baiklah apa yang ingin kalian dengar?” tanyaku
santai.
“Oke baiklah
baiklah Sachi, seperti biasa kau ini selalu menyebalkan. Jadi apa yang kau
rasakan saat ini?”
“Entahlah, aku… hm….
Aku ingin…hm.. entahlah aku ingin memegang tangannya” jawabku sambil
membayangkan kejadian tadi siang yang membuat hatiku remuk berkeping-keping.
“Tangan? Tangan
siapa?” Tanya Arissa penasaran.
“Sachi tolong
bicara yang jelas, apa yang kau bicarakan? Tangan siapa yang ingin kau pegang?”
jawab Yukka tak kalah penasaran.
“Kaliaan tentu
tau jawabannya. Tangan siapa lagi kalau bukan tangan Lee Taemin.”
“Ooohh itu,
bukan hanya kau saja, tentu saja aku juga mau. Apalagi tangan Kim Jonghyun.
Lalu kenapa kau jadi begini huh?” jawab Yukka menanggapi dengan santai.
“Tadi aku hampir
saja memegang tanggannya, tapi dihalangi oleh menejer Ho, menyebalkan >< girls apa kalian tidak ingin memegang
tangan mereka?”
“Jika ingin
memegang tangannya kau culik saja mereka, bukan cuma bisa memegang tangan mau
apapun juga bisa. Kau ini ada-ada saja Sachi.” Timpal Ren dengan santai. Tapi
aku menanggapi pernyataannya dengan pandangan berbeda, ini terdengar seperti
sebuah ide. Konyol mungkin, tapi aku tergelitik ingin mencobanya. Menculik
sebuah idol grup haha terdengar konyol tapi……….. entahlah.
“Ide bagus!!!
Menculik sebuah idol grup yang baru saja merilis album baru. Ini akan menjadi hot news setelah kita melakukannya”
jawabku.
“Hah? Apa kita benar-benar
akan melakukannya? Ren kan hanya bercanda” kata Arissa dengan ekspresinya yang
khas.
“Kita harus
menyusun strategi” kataku tanpa mempedulikan Arissa yang keheranan.
“Baiklah jika
itu yang kau inginkan, aku ikut. Yang lain bagaimana? Ini akan jadi
satu-satunya kesempatan kita jika ingin lebih dekat dengan mereka.” Kata Yukka
setuju.
“Bagaimana kalau
kita gagal? Ayolah kita harus pikirkan ini baik-baik, yang kita lakukan adalah
tindakan kriminal.”jawab Ren tak kalah keheranannya dengan Arissa.
“Kalau gagal
kita akan masuk penjara. Eh… tidak…. Belum tentu. Lakukan saja dulu yang lain
kita pikirkan nanti. Makanya kita harus atur strategi supaya kita tidak gagal.”
Jawab Yukka.
“jadi bagaimana?
Siapa yang punya ide?” Tanya Arissa.
***
SHINee itu selalu pergi bersama ke tempat gym sekitar pukul 9 atau 10 malam, hal
yang harus kami lalukan adalah menyelinap kedalam mobil yang mereka kendarai
kemudian bersembunyi di dalamnya, setelah mereka naik mobil kita harus segera
beraksi. Setelah itu barulah kita bawa mereka ke lokasi tujuan. Ini lebih dari
sekedar penculikan tapi juga pembegalan, maafkan kami SHINee kami tidak
bermaksud menyakiti kalian.
Langkah pertama. Pakai topeng lalu bersembunyi diantara
mobil-mobil yang sedang parkir ini, tunggu sampai ada kesempatan untuk masuk
kedalam mobil. Jika tidak dapat kesempatan rencana kedua adalah kita harus
benar-benar nekad membegal mereka secara langsung. Oh tuhan, kumohon berilah
kami jalan. Bingo!!! Hari ini Taemin
yang mengendarai mobilnya, aku yakin dia pasti lupa mengunci mobilnya,
disinilah aku dan yang lain mengambil kesempatan.
“Ayo!! Kita harus segera masuk!! Jangan lupa kita harus
menjatuhkan korban terlebih dahulu supaya yang lain datang mencari Taemin” kata
Yukka sebagai ketua kami.
Aku dan yang lain mengendap-ngendap kedalam mobil
sedangkan Yukka menunggu di luar untuk menjalankan aksinya. Aku benar-benar
gugup dan penasaran akan aksi Yukka yang paling nekad diantara kami. Dari dalam
mobil aku liat Taemin datang sendiri ia pasti ingin mengunci mobilnya. Aku
segera bersembunyi di dalam mobil. KYAAAAA aku mendengar kegaduhan di luar,
pasti Yukka sedang beraksi hahaha. Beberapa saat kemudian Yukka membuka pintu
dan meletakan Taemin yang sedang pingsan ke tempat duduk di mobil. Selanjutnya
kami bersembunyi di mobil dan menunggu yang lain datang.
“Sssstttt Rissa sebenarnya obat apa ini? Kenapa reaksinya
cepat sekali? Aku jadi kasian melihat Taemin.” Kata Yukka berbisik-bisik pada
Arissa.
“Entahlah aku juga tidak tau, aku memintanya pada temanku
yang jurusan biologi. Sudahlah kalian tenang saja itu aman kok, aku sudah
bilang pada temanku untuk dicarikan obat bius yang reaksinya cepat tapi aman
untuk manusia, lalu ia memberikan itu padaku.”
“Untuk manusia? Jadi maksudmu ini sebenarnya bukan untuk
manusia?”
“Entahlah, sudah jangan banyak tanya lakukan saja misi
kita.”
Sekitar satu jam kami menunggu di dalam mobil, tapi yang
lain tidak kunjung datang. Apa mereka tidak mengkhawatirkan si bungsu yang satu
ini? Atau mungkin Taemin memang suka pergi sendirian ketika yang lain sedang
sibuk berolah raga? Terserahlah yang penting sekarang misi kami harus berjalan
sesuai rencana. Huh tapi lama-lama pinggangku sakit juga bersembunyi seperti
ini, yang lain sepertinya juga sama, ini benar-benar gila.
“Ah mereka mendekat!!! Girls siap-siap!!! Cepat tuangkan obat ini ke sapu tangan
masing-masing. Berusahalah tenang dan jangan gugup. Okeh.” Kata Yukka sang
ketua.
Key membuka pintu mobil dan mendapati Taemin yang pingsan
“Dasar anak ini bukannya mengunci mobil malah tidur disini. Untung tidak
dibegal orang.” Kemudian pria berwajah manis ini masuk dan duduk disebelah
Taemin, lalu yang lain ikut masuk, kali ini Minho yang duduk di tempat
kemudinya. Baiklah ini saatnya. Tuhan tolong selamatkan kami.
Arissa dengan cepat menyekap Key dari belakang dan
membuatnya pingsan, sedangkan aku bergerak menuju Onew tapi ia melakukan
perlawanan membuatku panik tapi aku harus professional, melawan lelaki memang
sulit jadi aku sudah persiapkan senjata cadangan dari rumah, aku semprotkan air
ke wajah Onew hingga ia hilang fokus kemudian tanganku dengan cekatan
menyekapnya dengan sapu tangan yang sudah kutuangkan obat bius, maafkan aku
Onew. Berbeda denganku Ren malah dengan santai melumpuhkan Minho. Yukka justru
hilang kendali setelah melihat wajah Jonghyun kesayangannya, bukannya menyekap
ia malah perteriak histeris “KIM JONGHYUN KAU TAMPAN SEKALI!!!!”, untung saja
Jonghyun ini keheranan jadi Ren segera membekapnya sampai pingsan, kalau ia
melawan entah apa yang akan terjadi pada kami. Dasar Yukka, ia langsung
kehilangan karisma sebagai pemimpin tindakan kriminal ini hanya karena melihat
idolanya -,-.
Setelah semuanya pingsan, kami mengambil ahli kendali dan
membawa mereka menuju suatu tempat. Tempatnya cukup terpencil, ini salah satu
tempat aku dan teman-temanku tersesaat saat darmawisata sejurusan tahun lalu.
Kurasa ini tempat yang tepat untuk kami dan SHINee bertualang bersama. Sesampainya
di tempat tujuan aku dan yang lain mulai kelelahan sedangkan SHINee tak kunjung
bangun hingga tanpa sengaja kami ketiduran di mobil. Karena fokus pada misi
kami jadi lupa pada tujuan awal ‘memegang-tangan-mereka” hahaha.
***
Matahari mulai menampakan sinarnya, aku terbangun dan
melihat jam tanganku, jam 5 pagi. Kulihat kesekeliling ah aku ketiduran semalam.
Kulihat sosok pria disampingku, wajah yang begitu tenang dan letih, aku jadi
merasa bersalah karena melakukan ide gilaku ini, terselip niat untuk mengakhiri
semua dan melepas mereka tapi ini sudah kepalang tanggung, jadi lanjutkan saja,
setidaknya biarkan aku mencurahkan isi hatiku padanya nanti, setelah itu
terserah ia ingin pergi atau bagaimana. Selesai melamun aku segera membangunkan
teman-temanku dan keluar dari mobil, membiarkan lima pangeran ini bergulat
dengan mimpinya hingga ia bangun nanti.
“SIAPA KALIAN???!!!” baru saja kami keluar mobil dan
duduk sebentar untuk mengumpulkan nyawa setelah semalam kami melakukan tindakan
gila, pria-pria ini meneriaki kami hingga membuatku kaget. Segera kulihat
kearah belakang dan mereka berlima sudah berdiri dan matanya yang menatap kami
tajam. Mereka marah, tentu saja, tapi aku tidak
ingin mereka membenci aku dan teman-temanku, aku akan coba jelaskan.
Tidak, tidak menjelaskan tapi langsung saja ke rencana, ajak mereka sejenak
melepaskan dunia keartisannya. Aku menggenggam tangan Key dan menuntunnya untuk
mengikutiku, yang lain dengan keheranan juga mengikutiku. Kami melewati
pepohonan lebat dan semak belukar, aku lihat wajah mereka penuh takjub dengan
keindahan alam namun dicampur ekspresi bingung dan waspada. Setelah melewati
hutan kami menemukan jalan raya, ini jalan tempat kami tersesat waktu itu. Kami
menunggu mobil yang lewat dan aku hendak meminta tumpangan.
“Sebenarnya kalian siapa?” tanya Key. “Apa yang kalian inginkan dari
kami” tambahnya.
“Kami bukan siapa-siapa, nikmati saja perjalanan ini
jangan banyak tanya!!” kata Yukka tegas.
“Ah ayo kita naik mobil bapak itu!! Ia mau menumpangi
kita” kataku menarik tangan Taemin berlari ke arah mobil yang akan menumpangi
kami, yang lainpun mengikuti.
Suasana yang berbeda, tidak seperti di Tokyo, tempat ini
penuh dengan nuansa tradisional Jepang, bagaimana tidak kami sekarang berada di
perkampungan yang cukup terpencil, suasananya asri dan tenang, cocok jika ingin
sedikit melepaskan beban pikiran dari kerasnya kota yang penuh liku. Kami
berjalan menuju ke pasar tradisionalnya, aku mengajak SHINee untuk menyicipi
makanan tradisional yang enak-enak, mereka tampak sangat menikmati perjalanan
ini, mereka mulai terbiasa dan santai. Inilah yang aku mau.
“Hm…. Ini udon terenak yang pernah aku cicipi,,, “ kata
Onew
“Iya,,, senangnya jalan-jalan kesini, tidak ada yang
mengenal kita, bisa jalan sepuasnya” tambah Taemin.
“Apa kalian senang??” tanyaku.
“Yah!! Tentu saja. Aku kira kalian akan menculik dan
menelpon menejer kami lalu meminta uang tebusan dan sejenisnya” kata Taemin.
“Sebenarnya kami memang butuh suasana seperti ini tapi
selalu saja tidak sempat karena jadwal yang begitu padat. Aku pribadi berterima
kasih pada kalian” kata Key menambahkan. Aku lega mendengarnya. Aku senang jika
pangeranku ini senang.
Eh eh bukannya
itu SHINee?? Aku pernah melihatnya di
televisi. Apa yang mereka lakukan di kampung ini? Apa mereka akan melakukan
pemotretan? Waaaah mereka tampan yah ><. Beberapa remaja disini
sepertinya mengenal SHINee, ah aku kesini beberapa tahun lalu, pasti kampung
ini sudah lebih maju daripada sebelumnya, pengaruh grup idol sekelas SHINee
ternyata sudah sampai ke pelosok Jepang sekalipun, aku benar-benar kagum tapi
dibalik itu aku juga khawatir pada pangeranku ini jika kondisinya seperti ini.
Ah sial!! Harusnya aku bawa mereka ke Zimbabwe saja agar aman kekeke~. Aku
lihat SHINee sudah tampak tak nyaman. aku juga mulai gugup bagaimana jika
mereka diserang remaja disini??.
***
Aku bahkan tak
pernah membayangkannya. Bermimpipun tak pernah. Tangan itu kini dapat
kurasakan.
Kulihat wajah SHINee yang mulai tak nyaman, aku tak tau
harus berbuat apa saat remaja-remaja ini mulai berjalan mendekati para pangeran
ini. Bahkan tak pernah kubayangkan sebelumnya hal ini akan terjadi. Tanpa
kusadari seseorang menggenggam tanganku erat, menyeretku lalu aku mulai hanyut
kedalam suasana hingga kaki ini ikut berlari mengikuti irama detak jantungku
yang mulai bergemuruh. Entahlah berlari seperti ini bahkan bukan lelah yang
kuasakan tapi malah perasaan bahagia yang tak pernah kurasakan sebelumnya. Yah
sekarang aku sedang berlari bersamanya, seakan sedang mengejar masa depan.
Ditengah perjalanan bahkan aku masih sibuk dengan pikiranku sendiri tangan ini
membawaku ke belokan hingga aku hilang keseimbangan dan tubuhku tertabrak ke
tubuhnya, “aw….”,
“huft… huft… huft…..
maaf aku menarikmu kuat sekali. Apa tanganmu sakit? Apa kau lelah?” kata
Taemin dengan nafas yang terengah-engah. Aku dapat merasakan deru nafasnya
karena posisi kami yang begitu dekat. Aku dapat melihat wajah indahnya dengan
sangat jelas, mata itu, mata yang sangat indah namun tak bias kubaca.
Keringatnya perlahan mengalir membuatku hilang konsentrasi. Untuk beberapa saat
kami saling berpandangan. Deg… deg…deg…deg….deg……..
“Huft..huft.. tidak, tidak apa-apa. Apa kau baik-baik
saja? Maaf… maaf karena telah membawamu kedalam masalah. Maafkan aku.” Kataku
penuh penyesalan. Aku menundukan mukaku, menatap tepat kebawah. Kemudian mundur
beberapa langkah darinya. Aku sungguh malu.
“Tidak apa-apa, tidak usah merasa bersalah seperti itu.
Yang penting sekarang kita sudah selamat.” Kemudian ia duduk di lantai tanpa
peduli bajunya yang akan kotor, yah kami sekarang ada di sebuah gang buntu,
disekeliling kami penuh dengan tumpukan sampah kaleng dan botol minuman.
Sejenak kami melepas penat di gang ini.
“………..” diam. Untuk beberapa saat kami saling diam dan
sibuk dengan pikiran masing-masing. Kemudian aku memberanikan diri memulai
percakapan, “Bahasa Jepangmu bagus juga.” Kataku singkat.
“Aku belajar bertahun-tahun sebelum kami melakukan debut
Jepang.” Katanya. Kemudian hening.,,,,,,, ia bicara lagi, ”Aku tidak pernah
membayangkan hal ini akan terjadi, kukira fans kami tidak ada yang senekad
dirimu dan teman-temanmu itu. Apa semua gadis Jepang sepertimu? Kekekek~ Awalnya
aku kaget dan merasa takut juga sedikit tak nyaman. tapi setelahku jalani ini
cukup menyenangkan.” Katanya sambil tersenyum singkat.
“Apa sekarang kau senang?” tanyaku.
“Entahlah, aku tak bisa menjelaskan perasaanku, disisi
lain aku merasa sangat senang dan berterimakasih padamu, tapi disisi lain ada
perasaan aneh yang kurasakan, mungkin karena ini sedikit asing bagiku….”
“Apa boleh aku menanyakan sesuatu?” kataku lagi.
“Apa itu?”
“Apa kau ingat aku??” tanyaku penasaran.
“Kau…hm… beri tahu aku jika aku salah. Hm.. bukankah kau
yang waktu itu memintaku berjanji agar bertahan bersama SHINee??” katanya
sambil berpikir, ah ekspresi itu… lucu.
“Ah, kau masih ingat rupanya. Lalu apa jawabanmu?”
“Tentu saja aku berjanji. Aku akan bertahan demi jutaan
fans diluar sana, karena bagiku mereka segalanya.”
Aku mengulurkan jari kelingkingku padanya, persis seperti
saat aku bertemu pertama kali dengannya, kuharap kali ini tidak gagal lagi.
Kemudian dengan senyumnya yang cerah ia mengaitkan kelingkingnya di
kelingkingku, tangan kirinya bahkan menggenggam jari kami yang sedang
bertautan. “Aku berjanji.” Katanya. Lagi-lagi pandangan kami bertemu, aku
seakan terhipnotis dengan keindahan bola mata itu, bola mata bening yang
dihiasi lensa kontak berwarna abu-abu,
sangat cocok dengannya. Pemandangan yang sangat indah. Aku terdiam dan fokus
pada bola mata itu untuk beberapa saat, tanpa sadar bibir ini mengukir senyum
untuknya.
“Matamu asing bagiku, namun sangat nyaman dipandang. Aku
merasakan ketulusan dan kedamaian di dalamnya. Aku belum pernah menatap
seseorang sedalam ini. Kita belum pernah saling bertemu secara individual tapi
aku merasakan perasaan seakan kita sudah saling mengenal selama bertahun-tahun.
Terimakasih telah mendukungku selama ini.” Katanya sambil terus menatapku.
Aku menunduk, mencoba mengalihkan pandangan. Tuhan tolong
aku, jantungku seakan akan meledak aku bahkan tak bisa mengendalikan pikiranku.
Bagaimana ini?. “Hm… aku berjanji akan bertahan sampai akhir, sampai aku tak
bisa bertahan lagi di dunia ini. Tentu saja aku akan mendukung kalian selama
yang kumampu” kataku lirih.
Ia mengelus pucuk kepalaku sambil tersenyum
“terimakasih”. Katanya singkat.
***
Sesuatu terjadi. Ini aneh. Mungkin ini akhir
segalanya.
“aw!! BERHENTI
MENARIKKU!!! Lepaskan aku!!!” mereka menarik-narikku kuat sekali, aku bukan
penjahat, aku hanya menyayangi mereka aku hanya ingin lebih dekat dengannya,
aku tak akan menyakitinya tapi orang-orang ini menyakitiku. Mereka pergi.
Yah apa lagi
yang lebih buruk dari pada kau yang sekarang sedang ditarik dan dipaksa naik ke
atas mobil yang asing. Aku tahu orang ini pasti sedang mencariku atas tuduhan
tindak kriminal, penculikan artis terkenal yang sedang naik daun. Aku memang
tak pernah berpikir ini akan terjadi, bukan… bukan tak memikirkannya tapi aku
tidak peduli. Yah memang kami hanya sekumpulan gadis aneh dan bodoh yang
terobsesi pada sekumpulan pria yang bagai bulan purnama, terlihat dekat tapi
pada kenyataannya mereka sangat jauh hingga aku tak dapan menggapainya.
“Bisakah kalian
bertindak sedikit sopan pada seorang gadis???” kata Jonghyun pada orang-orang
ini. “kami tidak apa-apa, mereka bahkan tidak menyakiti kami. Lepaskan
mereka!!” tambahnya.
“Tapi mereka
adalah gadis pembuat onar, mereka harus ditindak lanjuti di kantor polisi.”
Kata seorang lelaki bertubuh kekar yang sedang mencengkram tanganku kuat.
“LEPASKAN MEREKA
KATAKU!!!” kata Jonghyun setengah berteriak. Aku kaget dan terdiam sejenak. Aku
tak pernah melihat mereka marah sebelumnya. Yang selama ini kulihat mereka
hanyalah pangeran penuh senyum dan sangat lembut. Tanpa sadar butiran kristal
cair mengalir dari pelupuk mataku. Apa mereka marah karena aku dan
teman-temanku membawa mereka ke dalam masalah, apa mereka terbebani karena ide
gilaku? Atau mereka ingin melindungi kami.
“Lepaskan mereka
sebelum wartawan menemukan kita, aku tak ingin gadis-gadis ini dalam masalah.”
Kata Minho.
“Tapi ini
melanggar hukum, gadis-gadis ini harus diberi pelajaran agar tak terjadi hal
serupa” kata seorang lelaki kekar lainnya yang sedang mencengkram tangan Yukka.
“Apa kalian
ingin kami dalam masalah? jika mereka terekspos ke media bukan hanya mereka
yang dalam masalah, tapi kami juga. Sudahlah, lepaskan saja mereka dan kita
pulang lalu suruh yang lain mengalihkan perhatian media agar masalahnya tak
jadi panjang.” Kata Taemin tampak gusar menanggapi masalah ini.
Perlahan para
lelaki ini melepaskan kami, kemudian mengarah ke SHINee dan membawa mereka
pergi menjauh dari pandangan kami. Semakin jauh, aku hanya melihatnya tak
berusaha mengucapkan selamat tinggal, maaf atau terimakasih. Ini terlalu sulit
dipercaya, apa kisahku akan berakhir seperti ini? Sangat tragis……
Perpisahan itu, perpisahan tanpa kata. Mereka pergi
meninggalkan bayangan dan kenangan. Bagai matahari yang tenggelam digantikan
cahaya rembulan.
Bulan matahari… mereka sama saja, tak akan bisa kucapai.
Air mata ini bukan pertama kalinya jatuh karena
mereka, ini yang kesekian kalinya, sakit, tapi justru mereka jualah obatnya.
Aneh… memang aneh.
Mata itu terasa asing bagiku saat ia meninggalkanku.
Entah kapan kegilaan ini berakhir, entah kapan air mata ini berhenti menetes
untuk mereka, entah kapan jantung ini berhenti berdetak untuk mereka, entahlah
kenapa hidupku serumit ini saat mengingat mereka.
Tapi aku bagai terjatuh kedalam lubang hitam tanpa
ujung hingga aku tak bisa mendaki dan keluar dari sini, kegelapan ini terasa
nyaman karena aku melihat cahaya didalam kegelapan itu. Rumit memang,,,, bahkan
aku tak mengerti tentang semua ini. Hingga air mata ini mengalir membuat aliran
sungai di pipiku.
***
KRIIIIIINGG………KRIIIIIIIIINGGGG……KRIIIIIING!!!!!
PRAANGGGG!!!!
“YUU SACHIKO!!
Kenapa kau melempar jam alarm baruku????????” kata Yukka memukul pinggangku
keras.
“aw!! Sakiit!!
Kau ini kasar sekali!!” kataku meringis kesakitan.
“eh? Matamu
bengkak, apa kau menangis semalaman? Eh.. tapi aku tidak tidur semalam, aku
melihatmu tidur. Eh? Kau kenapa Sachi??” tanyanya keherahan.
Aku memegang
pipiku yang basah. Apa? Apa yang terjadi? Apa ini mimpi? Jadi….. Oh Tuhan
bodohnya aku menangis dalam tidur. Syukurlah tenyata ini mimpi J. “ah tidak… hanya saja sepertinya semalam aku mimpi
buruk >.<” kataku tersenyum tipis.
“huft aku tak
menyangka, gagal memegang tangan Taemin sampai terbawa mimpi begitu. bodoh!”
kata Yukka memukul pucuk kepalaku pelan. “Ayo kita harus kekampus hari ini,
bersiap-siaplah.”
**END**