Title : Memory on Thursday
Gendre : Romance
Length : one shoot
Rated : G
Cast : *kasih tauw gak yah??*
Memory on Thursday
Hari yang paling kusuka semenjak duduk di kelas 12
adalah hari Kamis. Kau tau kenapa? Tidak? Baiklah akan kuberi tahu
sedikit rahasiaku padamu. Semua ini berawal sejak aku masuk kelas C di
sekolah. Kau tahu sejak kecil aku sudah mengenyam pendidikan yang
prestisius (?), orangtuaku sangat peduli pada pendidikanku, sejak umur 3
tahun aku sudah mulai mengenal angka dan huruf, ibu mengajariku bahasa
Inggris, dan beberapa pengetahuan dasar lainnya. Sejak kecil aku senang
sekali ketika sudah tiba waktunya untuk belajar terutama pelajaran yang
baru kukenal, jadi tak heran kalau sejak duduk di taman kanak-kanak aku
berada di kelas A. sejak SD sampai sekarang aku selalu juara kelas,
kurasa banyak teman-teman yang iri padaku, juga banyak gadis yang
menyukaiku hehe :), tapi semuanya berubah saat aku memutuskan untuk
mencari suasana yang berbeda yang kurasa membuat hidupku lebih berwarna
dan tanpa tekanan.
Kamis-jam istirahat-seminggu sebelum UAS
Lambat laun aku merasa jenuh ketika harus belajar
terus menerus, belajar tidak hanya berkutat dengan buku-buku bukan? Aku
jenuh melihat tumpukan buku yang menghantuiku setiap hari, mereka
menggodaku agar aku menyentuhnya, membuka dan membacanya. Ini
benar-benar membuatku gila. Suatu ketika seorang guru menyuruhku masuk
ke kelas C untuk mengambil bukunya yang ketinggalan disana, tentu saja
aku segera kesana walaupun terselip sedikit perasaan takut, karena anak
kelas C terkenal brutal dan ‘horor’. Dengan langkah yang sedikit gemetar
aku masuk ke kelas C, sungguh pemandangan berbeda saat aku masuk kelas
itu, seperti masuk terminal atau pasar tradisional, begitu riuh dan
kacau. Aku memberanikan diri masuk dan mengambil buku Pak Han di atas
meja. Tak semulus yang kukira buku yang hendak kuambil di tahan oleh
seorang anak lelaki, tubuhnya kurus tinggi wajahnya cute dan ‘evil’.
“tidak semudah itu kau mendapatkan buku ini” ucapnya dengan tampang evilnya
“maaf aku harus segera mengambilnya dan masuk kelas, bisakah kau melepas buku itu?” ucapku datar.
“hah…anak kelas A memang payah, selalu terburu-buru
masuk kelas, ada apa di kelasmu ha? Apa ada gadis seksi disana? Atau ada
celana dalam guru yang ingin kau intip??” katanya terkekeh,
“aku tak sama seperti kalian, sekolah adalah tempat
menuntut ilmu jadi kurasa yang kau ucapkan itu bukanlah sesuatu yang
akan kulakukan. Aku datang ke sekolah untuk hal-hal yang bermanfaat
berbeda denganmu yang hanya bermain-main menghabiskan penghasilan
orangtua, dan melakukan kegiatan yang membuang-buang waktu” ucapku
panjang lebar.
“pintar sekali kau menceramahiku. Kau tahu aku
membenci anak kelas A. mereka munafik. Pura-pura belajar menarik
perhatian guru. Kalian adalah anak-anak CULUN”
Aku merampas bukunya secepat kilat, berada di kelas
ini membuatku gila, orang mana yang mau masuk kelas seperti ini. Bahkan
tempat ini tidak pantas disebut kelas, liat saja penampilan dan kelakuan
mereka yang brutal. Aku segera pergi dan meninggalkan anak laki-laki
itu tanpa berkata apapun. Kuharap ini terakhir kalinya aku masuk ke
kelas C.
***
Kamis-UAS terakhir
Kenapa mereka begitu egois? apa mereka merasa rugi
saat memberi contekan nomor 14, hanya satu soal saja apa salahnya?.
Kalau tidak mau memberi contekan bilang saja tidak mau, kenapa harus
pura-pura tidak dengar saat aku memanggilnya? Sungguh mereka sangat
keterlaluan.
Aku berjalan melewati koridor sekolah penuh amarah. Semalam adikku
mengajak bermain game, kau tahu saat bermain game aku lupa segalanya
termasuk belajar, padah esok harinya aku masih menghadapi UAS. Ujian
tadi sungguh payah, aku hanya bermodalkan pengetahuanku selama setahun
menuntut ilmu di SMA ini. Awalnya terasa mudah tapi soal nomor 14
sungguh aku lupa bagaimana caranya. Aku lihat teman-temanku satu persatu
kedepan kelas mengumpulkan lembar jawabanya. Aku sungguh butuh bantuan
mereka. tapi ketika aku panggil mereka pura-pura tidak dengar, sungguh
membuatku kesal. Mereka benar-benar egois.
Langkahku terhenti saat melintasi kelas C, kelas pasar yang payah,
penuh dengan anak-anak brutal. Langkah kakiku mengajakku mengintip
suasana ujian di kelas C, Cuma ingin memastikan apa mereka mengisi semua
jawabanya atau tidak. Aku mengintip lewat jendela kelas C, sungguh
pemandangan yang ‘manarik’ bagiku, pemandangan yang belum pernahku lihat
sebelumnya. Mereka ahli sekali mengelabuhi pengawas, seseorang di pojok
melihat contekan di buku panduan belajar, kemudian memberikan jawaban
ke seseorang di sebelahnya, lalu orang itu membagikan jawaban itu ke
orang di sebelahnya lagi. “kompak” itulah yang terlintas dipikiranku.
Menyontek memang bukan perbuatan yang patut di contoh tapi mereka
melakukannya nyaris sempurna tanpa cacat, berbagi jawaban dari orang
satu ke yang lainnya. Berbeda dengan kelasku tadi, hanya 1 jawaban saja
mereka bahkan tak mau member contekan.
***
Sejak kejadian itu aku mulai sering memperhatikan tingkahlaku anak
kelas C. aku tertarik dengan kehidupan mereka yang penuh kebersamaan.
Tak ada gores keegoisan saat mereka saling membantu sesama. Apa mereka
membenci anak kelas A karena kami egois??? entahlah.
Kamis- Bulan pertama aku duduk di kelas 12
Hari ini aku duduk di kelas 12 C. kau mungkin tak
percaya tapi inilah aku ‘siswa kelas C’. keputusanku sudah sangat
matang, selama liburan aku memikirkan hal ini. Guru, teman sekelasku,
orangtuaku, bahkan anak kelas C sendiri kaget bukan main saat aku
mengambil keputusan ini. Seumur hidup ini adalah kali pertama aku berada
di kelas C. aku lelah berada di kelas A. awalnya aku takut masuk kelas
ini, aku takut kalau anak-anak brutal ini menjahili dan menganiayaku
seperti saat aku mengambil buku Pak Han yang ketinggalan disini, tetapi
dugaanku salah mereka sangat antusian menyambutku. Jino, anak yang waktu
itu menjahiliku ternyata dia anak yang menyenangkan, juga teman-teman
yang lain. Aku senang punya banyak teman sekarang. Selama ini aku
terlalu banyak membuang waktuku dengan membaca buku yang sejatinya aku
juga membencinya. Lega rasanya lepas dari hal yang sangat kau benci.
Bulan pertama ini adalah waktu dimana aku
menyesuaikan diri. Awalnya aku shock dengan kebiasaan mereka. buat PR di
sekolah, setiap ujian menyontek, cabut di jam pelajaran matematika,
diam-diam membawa kartu remi untuk main di sekolah dan hal lain yang
melanggar aturan sekolah. Tapi yang perlu kau tahu aku tidak menjadi
seperti mereka, aku tetaplah aku. Setelah kuselidiki sebenarnya mereka
anak yang pintar juga rajin, hanya saja kurang semangat dan mativasi
belajar. Apabila terbentur di soal yang sulit mereka tidak akan
melanjutkan pekerjaannya dan pergi bermain. Yah kurasa mereka butuh
sedikit perhatian.
***
Selama ini aku sudah terbiasa dekat dengan anak-anak
brutal ini, bahkan kami sering menghabiskan waktu bersama baik untuk
belajar dan bermain. Di kelas aku lebih akrab dengan Jino dan
teman-teman genknya, ada Kibum, Jonghyun, dan Jinki. Senin sampai rabu
kami ada sekolah tambahan jadi belajar bersama dilakukan pada malam
hari. Sabtu dan minggu adalah hari bermain, jumat waktu dimana kami
sibuk dengan urusan masing-masing. Sedangkan kamis.. hm… adalah hari
yang palingku suka. Kami tidak ada jam tambahan di hari itu, setiap
pulang sekolah kami juga menghabiskan waktu sebentar di taman sebrang
sekolah. Jonghyun terkenal sebagai player papan atas diantara kami, kami
selalu ke taman ini setiap kamis karena saat itulah kami bisa melihat
siswi-siswi SMA tetangga pulang melewati taman ini. Jonghyun bermaksud
menggoda gadis-gadis cantik nan seksi, haha. Kibum Jino dan Jinki juga
memiliki targetnya masing-masing. Sedangkan aku? Kurasa aku juga punya.
Setiap kamis aku melihat gadis itu pulang sekolah
bersama teman-temanya, penampilannya paling nyentrik diantara yang lain,
ia memakai pin spongebob besar yang membuatnya terlihat lucu, warna
seragamnya juga menarik seperti warna minuman kesukaanku ‘banana milk’
dipadukan dengan rok warna ‘jus avocado’ hahaha melihatnya aku jadi
lapar, sungguh manis. Setiap kali ia tersenyum entak kenapa seakan dunia
berhenti perputar entahlah sepertinya aku tertarik padanya. Pada senyum
manisnya.
“Yaa… siapa yang kau lihat?” suara Kibum mengagetkanku.
“ah…aa… tidak.. aku…tidak melihat apa-apa”
“apa kau melihat gadis dengan pin spongebon itu eoh?”. Sial si player papan atas ini bisa membaca pikiranku.
“tidak, sudalah kalian ini bicara apa sih?” aku haru
tetap bersikap tenang, dasar mereka mengganggu lamunanku saja. kembali
ku lihat ke aras si gadis berdiri tadi, tetapi ia sudah tak ada. Sudah
pergikah? Ahhh sial. Kuedarkan pandanganku mencari sosok gadis yang
memakai pin spongebob, ah untunglah ia belum pergi jauh. Aku segera
menyusulnya, entah apa yang kulakukan tapi kakiku terus melangkah.
Pangilan hati kah?
“yaaaa mau kemana kau???????” teriak Jino histeris
“aku sedang tidak enak badan” ucapku sambil tetap mengejar gadis itu.
***
Sekarang aku tepat berada di belakangnya, sangat
dekat. Jantungku berdegub 2x lebih cepat dari biasanya. Setiap kamis
pasar ini selalu ramai, para pedagang dari desa datang kesini untuk
menjual dagangannya yang beraneka ragam. Oke ku jelaskan bahwa taman
dekat sekolahku itu juga dekat dengan pasar ini, jadi ketika pulang
sekolah aku selalu lewat pasar ini. Ahhh gadis ini berpisah dengan
temannya, ia melambaikan tanganya gemulai, tapi aku tak bisa melihat
ekspresinya karena aku masih ada di belakangnya, satu hal yang aku
sangat yakin adalah pasti ia sedang tersenyum.
Ahh kenapa ini setelah berpisah dengan temannya
langkah gadis ini semakin cepat, badanya yang kurus dengan mudah
menyusup ke tengah-tengan kerumunan orang, aku tak boleh kehilangan
jejaknya demi apapun ini adalah kesempatan langka. Kapan lagi aku bisa
diam-diam mengikutinya seperti ini. Ehh dia menuju bank, apa yang ia
lakukan? Sekarang jam 12 kurasa petugas bank sedang istirahat. Ahh
ternyata dugaanku benar ia keluar lagi dari bank itu, tergores ekspresi
kecewa di wajahnya yang manis. Sekarang ia menuju ‘’warnet’’ kurasa dia
mau mengeluarkan uneg-unegnya, hehe aku hanya menebak. Kembali aku
ikuti dia. Aku heran kenapa dia tidak curiga kalau aku mengikutinya yah?
Apa dia tipe gadis yang tidak peduli lingkungan sekitar? Ah yang
penting aku ikuti saja dia, baguskan aku bisa mengikutinya dengan bebas.
Setibanya di warnet kini ia kembali lagy, akhirnya
aku putuskan bicara padanya. “hey kenapa kau tidak jadi masuk?”
“ahhh itu… warnetnya penuh” jawabnya lembut, wajahnya lucu. Bolehkah aku menciumnya?? #plakk
“kalau begitu aku juga tidak akan masuk”
“yah kurasa begitu,,” ucapnya lesu, kemudian berlalu.
“hey..” memberanikan diri memanggilnya.
“kau memanggilku?” ucapnya membalikan badan dan menunjuk diri sendiri.
“ya benar”
“ada apa?” ucapnya polos, lucunya
“tadi aku tidak sengaja melihatmu pergi ke bank,
sekarang jam 12 lewat 10 kurasa petugas bank nya sedang istirahat. Apa
tebakanku benar?” ucapku sedikit gugup.
“iya kau benar, padahal hari ini aku harus mengirim
uangnya. Rumahku jauh dari sini jadi tak mungkin pulang lalu kembali
lagi kesini, kata satpamnya kakak itu akan kembali jam setengah 2 jadi
aku putuskan menunggunya sambil main internet, tapi warnetnya penuh jadi
sepertinya aku harus cari tempat lain”. Waaahhhh dia tak sedingin yang
kupikirkan, begitu ramah dan terbuka, aku suka dia. Auranya membuat
jantungku serasa akan meledak. Gadis banana milk.
“kalau begitu kita makan es krim saja, apa kau mau ikut dengnku?” ajakku.
“ha? Hmm…..kurasa makan es krim adalah ide yang brilliant.
Kajja”
Kamis-toko es krim
“mau pesan apa? Hari ini biar aku yang traktir”
“ha? Benarkah? Aku heran kenapa kau baik padaku,
baiklah hehehe aku pesan es krim strawberry saja”. satu hal yang harus
kucatat bahwa gadis ini suka es krim rasa strawberry. “kau pesan rasa
apa?” katanya mengagetkanku saat aku memandangnya tanpa berkedip.
“aku? Rasa banana milk”
“HAAAA…???
jinjayo?? Waaaaahhhhh” matanya
berbinar, entahlah aku tak tahu kenapa. “kau tahu aku punya seorang
idola ia juga suka banana milk, dia setiap hari minum susu rasa pisang,
kkkee” lanjutnya.
“
jinja?, aku juga sangat suka banana milk. Siapa idolamu?”
“namanya Taemin, Lee Taemin dia member dari boyband bernama SHINee” matanya bersinar, OMG dia manis sekali.
“ah benarkah? Namaku juga Taemin. Choi Taemin :)”
“
jeongmal?
cakkaman….” Dia
menatapku penuh selidik, aku merasa gugup mungkin mukaku merah sekarang.
“kau tahu taemin, Lee Taemin sangat mirip denganmu, hanya saja
rambutnya berbeda denganmu. Tapi wajah kalian sangat mirip. Kurasa aku
akan jadi fansmu. Wkwkwkwk” ucapnnya serius, tapi itu ekspresi yang
manis untukku. Mirip idolanya? Kurasa wajahku bisa kumanfaatkan juga.
Hehe.
“ah
jinja?
Gomawo, eh es krimku sudah habis”
“ha??
Eottokheyo?? Masih jam 1, kita harus kemana?
“jalan-jalan keliling pasar ini saja.
otte?”
“ide bagus,
kajja.” Ucapnya sambil berdiri.
***
Aku berjalan menggandeng tangannya, kau tahu kenapa
agaraku tak kehilangan jejaknya lagi hehe. Awalnya ia tak mau katanya
malu dilihat orang, tapi dengan IQ ku yang diatas rata-rata ini akhirnya
aku bisa mencari alas an yang tepat agar ia mau kugandeng. “
Kalau
tidak gandengan nanti saat berjalan kau di tabrak orang dan kemudian
jatuh, itu akan sangat memalukan bukan? Badanmu terlalu kurus untuk
berjalan sendiri di tengah keramaian. Makanya aku akan menggandengmu
agar kau tak terjatuh. Arraseo?”.
Kami berjalan menyusuri pasar yang sangat ramai, ditengah-tengah perjalanan gadis ini mengajakku mengobrol.
“Taemin-ah kau bahkan tak tahu namaku, apa kau tak
ingin mengetahui siapa namaku?”. Tanyanya polos. Astaga saking senangnya
aku sampai melupakan hal terpenting. Aduuhhh betapa bodohnya diriku.
“ah iya aku lupa, jadi siapa namamu?” ucapku sok cool.
“aku Ahn Hyun Hyo, panggil Hyun Hyo saja”
“hai Hyun Hyo” ucapku melambaikan tangan padanya.
“aahahaha kau lucu sekali Taemin-ah” astaga ini
pertama kalinya aku melihatnya tertawa lepas sedekat ini. Ternyata ia
lebih indah saat kau lihat lebih dekat.
***
Langkah kami terhenti di sebuah tempat pedagang kaki
lima, Gadis banana milk ini ingin melihat-lihat beberapa accecories.
Saat sedang melihat-lihat nenek penjualnya member kami sebuah couple
ring.
“ini ambillah nak, katanya kalau sepasang kekasih
memakai cincin pasangan ini maka cintanya akan abadi sepanjang masa”
ucap nenek itu memberikan couple ringnya.
“ah.. nenek tapi kami….ti-…” kata Hyun Hyo terheran-heran. Tapi aku segera memotong kalimatnya.
“terima kasih nek” ucapku sambil menerima couple ring itu. Lalu pergi setelah kamu membungkuk pada nenek itu.
Setela itu ditengah perjalanan aku berhenti dan memakaikan cincinnya
ke jari manis hyunhyo. Ia tampak terkejut, tapi tak ada reaksi apapun
darinya. “kita harus menghargai pemberian seseorang bukan?”
“ahhh kau benar juga. Tapi kalau mitos itu benar bagaimana? Kita bahkan baru berkenalan 2 jam lalu”
“itu bagus bukan”
“ha maksudmu?” katanya heran
“jika cinta kita abadi selamanya itu berarti bagus bukan?”
“ah….????”
“aku menyukaimu Hyun Hyo, jadi mulai ini kau dan aku adalah pasangan kaksih oke”. Ucapku nekad.
“eh kukira sekarang banknya sudah buka, aku pergi
dulu yah. Paii paii” ucapnya meninggalkanku dengan cincin yang masih
melingkar di jarinya. Entahlah apa hari ini aku sedang bermimpi,
berkenalan dengan gadis yang selama ini berkeliaran di otakku,
menyatakan cinta dan sekarang dia pergi begitu saja tanpa berkata
apa-apa. Secepat inikah? Apa kisah cintaku Cuma berlangsung 2 jam.
***
Kamis- seminggu setelah aku menyatakan cinta pada gadis banana milk
“Taemin-ah kau kenapa dari tadi
memandang gadis spongebob itu terus hah? Kau menyukainya eoh?” ucap
Jonghyun yang lagi-lagi mengetahui isi pikiranku.
“…….”
Gadis itu berjalan ke arahku, apa aku tidak salah
lihat? Apa benar dia Hyun Hyo si gadis banana milk? Sekarang dia
benar-benar berada di depanku. Omo
“taemin-ah kenapa kau melamun eoh?? Kau tidak
merindukanku” katanya penuh selidik. Kulihat couple ring itu masih
melingkar ditangannya.
God aku tidak sedang bermimpikan?
“yaa Taemin siapa gadis ini? Apa matamu punya magnet
yang kuat sehingga saat kau memandangnya dia akan tertarik kesini? Kata
Jonghyun.
“Taemin-ah apa kau tidak memberi tahu teman-temanmu
kalau aku ini pacarmu? Ah kau jahat Taemin-ah” tambah Hyun Hyo
“Taemin kenapa kau diam saja” tambah Jino
“HAAAAA INI BENAR-BENAR MEMBUATKU GILA” teriakku.
“Ayo kita jalan-jalan, kau harus dihukum karena membuatku gila Hyun Hyo”
ucapku menggenggam tanganya dan membawanya pergi. Makan es krim lagi
kah? Entahlah? Kurasa kau tahu jawabannya.
END